Thursday, 3 December 2009

lelaki pilihan


"Kenapa?"
"Sakit kepala!"
"Minum obat, istirahat, tidur...."
"Tapi sakit hati juga!"
"Aduh, kalau itu harus tahu apa penyebabnya! Sudah tahu?
"Sudah."
"Apa?"
"Bukan apa, tapi siapa."
"Yaitu?"
"Ah, pakai tanya segala! Siapa lagi kalau bukan dia."
"Dia, maksudmu...."
"Ya, dia... Suamiku! Siapa lagi?"
"Apa yang dia lakukan?"
"Banyak! Semua!"
"Wah, wah, wah..."
"Aku heran, kok ada orang yang bodohnya separah itu, sih? Dia buat aku lelah jiwa dan raga!"
"Hmmm, begitu ya?"
"Ya, begitu itu! Aduh, otak kok bisa kurang sesendok gitu, ya? Ampun, ampuuuun!"
"Hmmmm, hmmm...."
"Kok kamu ham-hem-ham-hem terus, sih?"
"Hmmmm, jangan marah, ya: menurutku, ada yang lebih bodoh dari suamimu."
"He, siapa?"
"Sekali lagi, jangan marah ya..."
"Ya, ya, siapa?"
"Menurutku, yang lebih bodoh dari suami bodoh itu adalah perempuan yang mau menjadi istrinya. Sudah tahu dia lelaki bodoh, kok ya mau memilih dia jadi suami?"
"..."

Thursday, 19 November 2009

Bukti Cinta

“Kamu cinta aku? ” dia bertanya.
Aku bilang, sangat.
“Buktinya apa ? ” dia bertanya lagi.
Aku bilang, dengan membuatnya bahagia.
“Caranya? ” ia ingin tahu.
Aku bilang dengan jadi suami yang baik, yang setia, yang…
“Yang memberi rumah besar, berlian, dan mobil juga?”
ia bertanya.
Tiba-tiba aku bisu.

Wednesday, 12 August 2009

Reda Writes: 24 X 60 X 60

Reda Writes: 24 X 60 X 60

24 X 60 X 60


Pagi


“Sayang, ayo bangun.”
“Hmmmm…”
“Ayo, ini sudah siang.”
“Hm, tambah lima menit lagi ya, Bu?”
“Tidak boleh.”
“Masih ngantuk, Bu.”
“Tentu! Kan semalam kamu tidur sangat lambat.”
“Bagaimana kalau tidak usah mandi saja, Bu?”
“Tidak mandi?”
“Ya, waktu mandinya bisa dipakai tidur sedikit lagi.”
“Ah, tidak bisa!”
“Kapan bukan Bapak yang mandi dulu?”
“Hari ini Bapak tidak ikut mengantar.”
”Jadi, dia berangkat siang?”
“Ya.”
“Yang nyetir Ibu?”
“Ya.”
“Aduh.”
“Kenapa?”
“Kalau begitu harus bangun sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu nyetirnya lelet. Aku bisa betul-betul kesiangan nanti!”
“Oh, begitu?”
“Sarapannya boleh jambu air saja, Bu?”
“Mana bisa! Havermout. Ibu sudah buatkan.”
“Besok boleh jambu air?”
“Tidak bisa juga. Jambu air itu bukan buat sarapan. Ayo sudah, sana cepat mandi!”
“…”

(Sebal, sebal, sebal! Kenapa weker tidak berbunyi sesuai permintaan? Mengapa bisu pada saat sangat dibutuhkan? Dan mengapa aku harus terlelap kelewat batas? Mengapa semua terlambat bangun? Ah, bukan semua. Hanya aku dan anak tercinta. Suamiku, masih lelap. Ya, ya, ya, semalam ia pulang sangat larut. Kalimat yang sempat ia katakan sebelum tertidur pulas: mengalihkan tugas mengantar anak padaku. Nah, dengan bangun terlambat seperti sekarang, ditambah kemampuan menyetir yang kurang dari cukup, bisa dipastikan betapa terlambatnya kami tiba di sekolah nanti. Ampun!)


Siang


“Hai!”
“Hai.”
“Sedang apa?”
“Makan siang.”
“Tidak jemput dia ?”
“Lho, hari ini kan giliranmu.”
“Ya, tapi pagi ini kan aku yang menyetir. Berarti pulangnya kau yang jemput.”
“Hm, begitu ya? Tapi aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku terlanjur makan siang.”
“Ya, distop dulu saja. Nanti diteruskan lagi. Sekarang jemput anak kita dulu.”
“Tidak bisa. Aku di Pluit.”
“Pluit? Jauh sekali!”
“Coba restoran sea food baru.”
“Lalu, siapa yang jemput Adi?”
“Ya, kamu dong. Kan hari ini giliranmu.”
“Tidak bisa. Aku ada meeting dengan klien.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Aku pikir…”
“Begini, kalau aku yang jemput, berarti anak kita harus menunggu dua jam lagi. Pluit itu jauh. Tetapi kalau kamu berangkat sekarang, dia hanya perlu menunggu satu jam saja.”
“Jadi tetap aku yang harus menjemput?”
“Kalau lihat praktisnya, ya.”
“….”
“Halo! Halo! Hei! Halo!”
“….”

(Sebal, sebal, sebal! Ya, aku mau teriak sekeras mungkin. Mau banting telepon hingga hancur berkeping-keping! Tapi mana bisa? Ini telepon kantor. Kalau pun boleh dilempar hingga luluh lantak, tak akan mengubah apa-apa: aku tetap harus menjemput anak tercinta. Dan kalau sampai bisa kuhancurkan, apa kata orang nanti: Ada ibu-ibu kumat! Tidak tahan stres jadi ayan mendadak! Kalau memang maunya jaga anak, urus rumah, jangan ngantor. Sebal! Sebal! Sebal! Kepala sudah mau meletus, tapi mulut harus tetap senyum! Sebal, sebal, sebal! Eh, aduh... Atasan sibuk menyiapkan materi presentasi. Aku tak punya waktu untuk berlari ke Pasar Baru, menjemput anak di sekolah. Kalau menunggu sampai meeting selesai, bisa-bisa anakku menguap kepanasan di halaman sekolah... Betul-betul keterlaluan! Aku harus melakukan sesuatu. Dan cepat!)

“Halo, Mbak. Ini aku.”
“Oya. Ada apa?”
“Mau tanya saja. Apa jadwal meeting kita hari ini sudah fix?”
“Kenapa?”
“Hm, kelihatannya kami akan tiba terlambat di sana.”
“Aduh, terlambat berapa lama?”
“Sekitar satu jam…”
“Wah, sejam lagi dia sudah punya jadwal lain.”
“Bagaimana kalau di-reschedule saja, Mbak? Besok pagi, mungkin?”
“Dia benci meeting pagi-pagi. Besok siang penuh. Sore, jam empat masih kosong. Mau?”
“Saya cek dengan Atasan saya dulu, Mbak.”
“Sekarang?”
“Ya, sekarang juga.”


(Ayo, gerak cepat! Aku berlari, menemui atasan yang sedang memberi sentuhan akhir pada bibirnya. – “Bu, meeting diundur sampai besok sore, jam 4,” kataku. Dia mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Oh, dia jadi seperti Ratu Sihir dalam Snow White. Buru-buru aku bilang, “Ini permintaan klien.” Bohong! Bohong! Biar! Biar! Biar! Dia membuka agendanya. Mengamatinya –ah, serasa setahun lamanya! Untung belum tercipta alat pendeteksi isi hati. Kalau ya, bos bisa melihat betapa aku berteriak-teriak kegirangan melihat agendanya kosong pada jam empat! Hore! Lima menit kemudian, aku sudah di jalan, menjemput. Terlambat? Sudah pasti. )

“Sayang!”
“Hai, Bu!”
“Bajunya kok basah dan kotor begini?”
“Habis main, Bu.”
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Belum?”
“Kan tadi pagi Ibu tidak kasih uang jajan.”
“Aduh, Sayang… Kok kamu tidak minta.”
“Takut.”
“Takut apa?”
“Takut Ibu marah.”
“Ah!”
“Tadi pagi, waktu kita berangkat, muka Ibu seperti harimau lapar.”
“Ah!”
“Iya, Bu! Kalau tidak percaya, lain kali aku bilang, kasih tahu Ibu. Biar Ibu bisa langsung lihat di cermin.”
“Ah!”


Sore


“Karena meeting kita diundur sampai besok sore, saya mau review sekali lagi. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa kurang sreg.”
“Kapan review-nya?”
“Sekarang.”
“Sekarang?”
“Ya. Kenapa? Ada janji?”
“Tidak, Bu.”
“Di ruangan saya saja. Oya, tolong minta office girl pesan pizza. Ajak anakmu makan juga. Dia pasti lapar.”
“Baik.”

(Oh, selamat tinggal harapan pulang cepat, mandi air hangat dan tidur lebih awal. Meeting berakhir jam sepuluh malam. Anakku tertidur di sofa. Masih dengan seragam sekolahnya. Semoga tak ada pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Kalau pun ada, semoga ia sempat mengejakannya saat aku meeting dengan tim kreatif tadi. Semoga ia jauh dari ulangan matematika dan IPS --dua pelajaran yang paling sulit ia kuasai. Semoga-semoga-semoga besok gurunya rapat! Sekolah libur! Semoga!)


Malam


“Hai.”
“Hmm. Baru sampai?”
“Ya. Sudah makan?”
“Sudah. Kamu?”
“Sudah juga.”
“Kalau begitu, ayo tidur.”
“Bagaimana kalau kita duduk di luar, mengobrol?”
“Ngantuk.”
“Ngantuk?”
“Capek. Pluit ternyata jauh.”
“Oh. Kalau begitu, besok saja ya. Kita ngobrol pagi-pagi. Habis mengantar Adi. Sambil minum kopi”
“Hmm, lusa saja.”
“Kenapa?”
“Besok aku harus ke Pulo Gadung. Lebih enak berangkat dari rumah.”
“Tapi lusa aku harus ke Surabaya. Sampai Senin.”
“Oh. ”
“Jadi, minggu depan?”
“Hm…”
“Eh, besok kau ke Pulo Gadung, berarti aku lagi yang mengantar?”
“Hm…”
“Sayang…”
“…”


(Dia, suamiku, sudah lelap. Aku tidak bisa tidur hingga malam lewat. Hari yang baru akan tiba beberapa jam lagi. Jadwal yang penuh sudah menunggu. Kapan surutnya pekerjaaan ini? Mengapa hari berlari begitu cepat? Tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Mengantuk yang amat sangat. Mungkin sebaiknya aku tidur sebentar saja.)


Pagi


“Sayang…”
“Hmm…”
“Sudah jam tujuh.”
“Jam tujuh? Aduh, terlambat!”
“Sudah bukan terlambat lagi, Sayang. Kita anggap saja ini hari libur nasional keluarga kita.”
“Aduh!”
“Anakmu melompat kegirangan melihat kau belum bangun.”
“Aduh!”
“Kenapa aku tidak dibangunkan?”
“Sayang, ternyata cuma kau yang bisa bangun pagi.”
“…”



pernah dimuat di Good Housekeeping Indonesia
edisi Oktober 2003

Friday, 10 July 2009

SETIA

Cerita Akhir Pekan

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu....
Dia ada di sana. Duduk di tempat yang sama, di kaki tangga lantai 6. Lengkap dengan sebotol besar air minum, onde-onde atau arem-arem atau risoles isi bihun yang selalu terburai setiap kali digigit. Kadang-kadang, ia ajak anaknya yang baru umur enam tahun itu. Berdua mereka duduk di sana. Ya, di kaki tangga itu. Terkantuk-kantuk, bahkan sampai tertidur anak itu di sana.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu....
Dia ada di sana. Dari pagi hingga hampir lewat tengah malam. Duduk di titik yang sama, melakukan hal yang sama. Menunggu. Siapa? Dengar-dengar, seorang penyiar yang ia suka suaranya, yang pernah memberinya potret diri, yang pernah mengiriminya lagu, yang pernah menyapanya beberapa kali tetapi sekarang sudah tidak lagi. Bahkan menoleh pun tidak. Ia menunggu. Siapa tahu hari ini, penyiar itu -yang sekarang perutnya mulai membuncit, yang mukanya makin berminyak, yang bertambah ubannya, akan menyapa, mengangguk, atau sekedar menoleh. Ada cerita lain lah.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu.....
Dia di sana.
Menunggu. Pasti.

Sunday, 28 June 2009

n a m a

Lagi.

Hari ini, pagi-pagi begini, seperti kemarin, juga seperti seminggu lalu, mereka menyebut namaku dengan suara rendah, berbisik. Lagi dan lagi. Ada berita kurang menyenangkan yang harus mereka sampaikan. Aku yakin itu. Tetapi tampaknya mereka tak tahu bagaimana menyampaikannya padaku. Mungkin mereka khawatir aku bakal sulit menerimanya. Tepatnya, mereka takut aku mengamuk, menerjang, menjerit histeris… Mungkin. Mereka tak bisa disalahkan, karena memang itu yang terjadi selama ini. Aku sendiri tak bisa mengerti mengapa aku selalu menerima kabar-kabar buruk itu dengan reaksi sangat berlebih (aku bisa mengatakannya begitu, sekarang). Mengapa aku tak bisa seperti Ibu atau Asia yang begitu tenang: memperlakukan kabar buruk sama seperti kabar-kabar lainnya. Biasa saja. Rata. Tanpa ledakan, gejolak. Ibu pun tak bisa mengerti mengapa aku begitu mudah mengamuk.

“Mengapa kau begitu berbeda dari Asia?” katanya pada suatu hari.
“Mungkin aku seperti Bapak?” kataku. Atas jawabanku itu, Ibu cuma berkata, “Mungkin.”
Selain Ibu, kami semua tak kenal Bapak. Tak sempat. Ibu bilang ia pergi begitu saja setelah aku dan Asia lahir.

Dengar, dengar: namaku kembali disebut. Agak terlalu sering dan itu membuatku kesal. Ada apa ini? Kapan mereka akan menyampaikannya padaku? Malam ini? Besok? Lusa? Minggu depan? Aku tak suka dibiarkan menunggu seperti ini. Aku ingin segera tahu apa yang akan mereka sampaikan padaku. Menduga segala kemungkinan yang bisa datang itu sangat melelahkan. Seperti gelembung udara yang bermunculan ketika air mendidih, begitulah letupan berita yang mungkin akan datang nanti. Pecah satu disusul oleh yang lain. Terus. Tidak berhenti. Kepalaku berdenyut sekarang. Menyiksa sekali.

Jun, ketika kami masih bersama, pernah bilang, “Jangan ambil pusing. Terima saja keputusan mereka dengan hati terbuka. Itu akan membuatmu lebih tenang, awet muda.” Aku ingat, saat itu kusepak kakinya, “Aku tidak perlu jadi awet muda. Aku cuma ingin jantungku bekerja dengan tenang. Tidak berdebar-debar, menduga yang tidak-tidak, lalu marah-marah setiap kali mereka datang dengan keputusan sepihak,” kataku, “Apa susahnya bicara jujur, terus terang? Itu membuat hidupku lebih tenang, umur –mungkin—bisa lebih panjang.”

“Mereka tidak akan pernah berterus terang padamu, padaku atau ibumu. Tidak perlu. Kenapa? Karena kita bukan siapa-siapa. Bisa berada di sini, bersama mereka adalah suatu keberuntungan. Harus disyukuri. Kau harus mengerti itu.” Aku tak suka mendengar omongannya.

Jun memandangku, lalu mencium kelopak mataku, “Tak usah menggeram. Itu hanya membuatmu lelah, tegang. Kau tahu, sekarang ini banyak perempuan muda terkena darah tinggi, lalu mati muda karenanya. Aku tak mau kau menjadi salah satu dari mereka.”
Aku? Mati muda? Kalau ingat ucapannya, aku ingin tertawa keras-keras: lihat siapa yang mati muda? Kau, Jun! Bukan aku! Ya, ya, Jun pergi begitu cepat bahkan sebelum Juna, Juni dan Juno cukup besar untuk mengenalnya, bapak mereka.

Aku ingat saat Jun tiba di rumah kami. Berdiri tegak di depan pintu, memandangi aku dan Asia. Ibu mendehem berkali-kali, memberi kode kepada kami untuk tidak terlalu menunjukkan minat padanya. Percuma. Ia terlalu tampan untuk diabaikan. Hari itu, hingga malam tiba, aku dan Asia terus berada di samping Jun.

Aku jatuh cinta pada Jun. Asia juga. Ibu tak senang ketika tahu soal ini. Ia minta aku membiarkan Asia memiliki Jun, “Dia kakakmu! Berikan laki-laki itu padanya!” kata Ibu. Ah, Ibu tahu apa? Asia boleh tertarik dan jatuh cinta pada Jun tetapi cintanya hanya untukku. Aku tahu betul: ia suka perempuan bersuara lantang, meledak-ledak, dan mengguncang tempat tidurnya setiap malam. Hangat. Tidak beku dan bisu seperti Asia.

Ketika aku kawin, Ibu menangis. Bukan untukku, tetapi untuk Asia yang memutuskan pergi. Ke mana? Tak usah dibahas. Tak penting lagi.

Anak-anak kami lahir tak lama setelah itu. Mereka memberi nama Juna, Juni dan Juno pada anak-anakku yang kembar tiga itu. Ketika aku masih sangat lemah, kudengar ada yang berkata, “Hei ibu muda, biar anak-anakmu kami beri nama seperti ayahnya. Kelihatannya kau begitu mencintainya.” Aku diam saja. Pertama, karena terlalu lelah. Kedua karena aku memang sangat mencintai Jun. Tetapi, cintaku terputus begitu saja: Belum seminggu anak-anak itu berada di dekat ayahnya, Jun tewas di jalan. Sebuah mobil melaju kencang, tak sempat berhenti ketika Jun menyeberang. Arjuna: suamiku, ayah anak-anakku, selesai begitu saja hidupnya. Aku menerimanya dengan kegeraman yang luarbiasa. Aku membanting diri, berteriak, menjerit, melolong. Mengamuk. Ibu tak berkata apa-apa. Hanya air matanya yang mengalir. Matahari padam hari itu.

Berhari-hari aku tidak makan. Aku ingin ikut mati saja. Lalu kudengar bisik-bisik. Namaku disebut berkali-kali. Ada nama lelaki terselip. Ibu juga mendengar semua itu. “Berhenti berduka. Bangun dan urus anak-anakmu. Kalau tidak, mereka akan mengawinkanmu! Mau kau?” kata Ibu setelah bisik-bisik itu tak terdengar lagi. Aku tak percaya pada telingaku. Mereka akan mencarikan lelaki baru untukku? Kawin? Sesegera itu? Belum selesai masa berkabungku!

Hari itu, aku memutuskan menurut pada Ibu. Berhenti menangis dan sibuk mengurusi anak-anakku. Lelaki yang entah siapa, dan kabarnya akan datang untuk menjadikan aku istrinya, tak pernah tiba. Aku tak kawin lagi sampai hari ini.

Kami: aku, tiga anakku dan ibu, terus tinggal bersama mereka -orang-orang itu- bertahun-tahun. Hidup menumpang, makan minum ditanggung, kami berlima mencoba melakukan yang terbaik untuk orang-orang ini. Apa pun yang mereka berikan, kami terima. Apa yang mereka minta, kami berikan. Tak ada pertanyaan, tak berminat menolak. Kami tahu diri. Hingga pada suatu hari, tanpa pemberitahuan dan permisi, mereka mengambil Juna. Anak lelakiku itu dikawinkan tanpa persetujuanku. Tanpa sempat bicara denganku, Juna berangkat dan tinggal bersama istrinya. Aku kembali mengamuk. Mereka tertawa. Mereka bilang aku bodoh. Ibu hanya menarik napas panjang, menggelengkan kepala. Malam harinya, ketika aku sudah amat kelelahan, ia datang dan berbisik, “Belajarlah untuk menerima segala sesuatu dengan hati lapang.” Aku menangis. Bukan karena ia berkata benar, tetapi karena aku tak bisa menerima kepergian anakkudengan hati lapang . Tidak akan bisa.

Setelah Juna, dua anakku yang lain mengalami nasib sama. Aku mengamuk lagi. Mereka kembali tertawa. Dan ibu berkata, “Kapan kau bisa belajar menerima, Anakku?” Tak akan.
Tahun lalu, Ibu mendadak tak bisa bangun. Mereka bilang, sakit tua. Aku setuju tetapi tetap tak bisa menerima ketika akhirnya ia benar-benar berhenti bernapas. Dia pergi begitu saja. Tak memberi pesan. Tak menatap mataku. Aku melolong, menjerit. Mereka menyuruhku diam. Mereka bilang aku tolol dan terlalu emosional untuk hal yang tak penting. Tak penting? Aku melompat dan menerjang salah satu dari mereka. Sebuah pukulan keras di rahang kananku menghentikan semua itu. Aku jatuh. Mereka bilang aku gila dan berbahaya. Dokter datang –memenuhi panggilan mereka. Ia bilang pukulan itu membuat kepalaku tak bisa tegak lurus lagi. Agak miring ke kanan. Mereka diam, memandang iba padaku.

Bisik-bisik itu kembali terdengar.

Namaku kembali disebut-sebut. Ada juga nama lain. Lelaki? Keterlaluan kalau mereka memikirkan suami untukku. Di usia setua ini, dengan tingkah laku yang semakin mengerikan, lelaki mana yang mau jadi pendampingku. Aku lelah menduga-duga. Mataku berat sekali. Mungkin terlalu banyak makan malam tadi.

Aku terbangun. Pintu terbuka. Jam berapa ini? Masih gelap, tetapi mereka sudah berdiri di hadapanku. Aku mencoba bangkit. Kepalaku yang tak bisa lurus ini terasa berat dan menyulitkan gerak. Seketika itu juga sebuah kain hitam melayang di atasku. Gelap. Apa ini? Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diri. Menggigit apa saja yang bisa kucapai. Mengeluarkan suara sekeras mungkin. Tak ada yang mendengar. Terjangan kakiku tak memberi hasil. Tubuhku terangkat, naik, tinggi di atas tanah. Lalu kain hitam itu semakin ketat membungkus. Napasku sesak. Kurasakan tubuhku mengarah turun, lalu menyentuh bidang datar. Mobil. Mereka membawaku pergi.

Dalam gelap dan pengap, aku terus meronta, berupaya lepas dari bekapan kain. Tidak mudah. Kakiku yang menendang ke sana ke mari, tak memberi hasil. Ruang gerak semakin sempit dan pengap. Napasku sesak. Keringatku mengalir, tapi tubuhku menggigil. Sudut bibirku robek, kepalaku terbentur lantai berkali-kali, lalu segalanya berputar dalam gelap. Kupejamkan mata rapat-rapat.

Ketika mataku terbuka, kain hitam yang tadi menyelubung berada di bawah tubuhku. Langit masih gelap, tetapi bulan telah pucat. Aku berada di sebuah tanah lapang. Tanpa perlu mencari, aku tahu di setiap sudutnya ada banyak pasang mata, memandangi aku. Aku ingin berlari, meninggalkan tempat ini secepat mungkin sebelum berpasang-pasang mata itu bergerak mendekat. Tetapi kakiku menolak digerakkan. Tubuhku menggigil. Mereka, pemilik mata yang menyala dalam gelap itu, bergerak. Langkah mereka mendekat, ringan, cepat. Nyanyi tenggoret terhenti.

Saatnya tiba, hidupku selesai di sini: pada tanah lapang tak bertuan. Kusimpan kepalaku di antara lipatan kakiku. Mataku basah.

Tiba-tiba sunyi.
Kaki-kaki itu berhenti melangkah. Aku menunggu. Jantungku berdebar.
“Jangan berlama-lama di sini. Dingin.” Aku mengangkat kepala. Di hadapanku duduk lelaki setengah baya, sepuluh langkah dariku. Suara itu miliknya. Rendah. Seperti gumaman. Di belakangnya berbaris belasan lelaki dan perempuan dengan mata menyala, bibir mereka membentuk garis lengkung yang naik di sudut.

Aku mencoba bangkit. Tubuhku oleng. Ia dan satu perempuan, bergerak cepat. Menopangku. “Tak perlu tergesa-gesa. Mereka sudah pergi. Kau aman,” lelaki itu kembali menggumam.
“Tegakkan badanmu. Cobalah berjalan. Pelan-pelan saja,” bisik perempuan penolongku,
“Usahakan kita sudah mencapai deretan pohon di tepi tanah lapang ini sebelum terang. Setelah itu, kau bisa beristirahat. Di sana lebih hangat.” Aku menurut. Mengherankan. Kami: aku, lelaki setengah baya dan perempuan itu bergerak lambat. Yang lain berada di depan. Kami berjalan dalam diam.

Bulan telah putih, sementara langit masih biru gelap ketika kami hampir tiba di deretan pepohonan itu. Perempuan yang menolongku menoleh, “Aku Kim. Siapa namamu?” Ia menanyakan namaku. Namaku? Siapa namaku? Siapa? Gila! Aku tak bisa mengingat namaku! Aku meraung. Bagaimana bisa aku lupa pada nama sendiri? Nama yang selama berminggu-minggu terus disebut, siang malam!

“Berhenti menangis! Diam!” lelaki itu tiba-tiba menyalak. Suaranya memekakkan telinga. Tubuhku gemetar. Semua yang ada di sekitar, memandangi kami dengan diam. Sekuat tenaga kuhentikan tangisku. Kim memeluk bahuku, “Diamlah. Apa yang kau tangisi? Nama yang hilang dari ingatanmu? Tak perlu. Itu pemberian mereka yang membuangmu tadi. Biarkan saja terlupa,” katanya. Aku menarik napas dalam. Sekuat tenaga kuhentikan tangis. Lelaki setengah baya itu berada jauh di depan, meninggalkan kami berdua. “Dengar kataku, mereka tak pernah mencintaimu. Mereka memegang hidupmu, hingga kau lupa bahwa itu milikmu. Hari ini, kau mendapatkannya kembali. Rayakan dengan menciptakan namamu sendiri,” bisik Kim di telingaku. Air mataku kering. Tiba-tiba saja.

Di depan deretan semak dan barisan pohon angsana, aku berhenti. Kim mendorong tubuhku, “Masuklah,” katanya. Kami menyelinap di antara pohon, alang-alang yang meninggi, dan perdu. Daun-daun kering menggelitik telapak kaki. Lalu suara-suara tinggi rendah berebut masuk telinga. Ramai meneriakkan selamat datang. Hari ini mereka menerimaku sebagai anggota baru anjing jalanan. Mungkin hari ini memang harus dirayakan.

Namaku, siapa namaku?

TANTE

cerita minggu siang


“Tante meninggal.”
“Aduh, kapan?”
“Semalam.”
“Kasihan dia. Hidup sendiri, tidak ada yang menemani.”
“Dia tidak sendirian. Dia punya banyak teman di rumah jompo. Dokter ada di sampingnya waktu dia meninggal. Bayangkan kalau dia masih tinggal sendirian di apartemennya yang besar itu.”
“Tapi selama sakit kita tidak sempat menengok.”
“Sudah, sudah.... Jangan memberati langkahnya. Aku yakin, dia paham betul kondisi kita. Waktu harus masuk rumah sakit bulan lalu, dia malah melarang aku menengok. Katanya, lebih baik biaya yang dipakai buat terbang ke sana, ditabung buat anak-anak.”
“Jantung?”
“Hmm. Aku berangkat nanti siang. Go show saja.”
“Aku perlu ikut?”
“Tidak usah. Kau di sini saja, sama anak-anak.”
“Dia begitu baik. Setiap ulang tahunmu, dia kirim hadiah.”
“Ulang tahunmu dan anak-anak juga.”
“Ya, ya.... Hadiahnya bagus-bagus! Sedih aku.”
“Sudah, sudah. Aku yakin lebih baik begini. Dia sudah tua. Mulai pikun. Ingat waktu kita ke sana? Sebelum dia masuk rumah jompo? Selama bersama Tante, kamu terus mengomel. Malah sering sekali aku dengar dia kena bentakanmu. Kamu tidak sabar menghadapi ke’tua’annya itu.”
“Habis bagaimana lagi? Dia cerewet sekali, bertanya hal yang sama berkali-kali. Sudah dijawab, bertanya lagi, lagi.... Tidak tahan aku! Tapi Sayang, aku sungguh tak bermaksud kasar padanya. Aku memang orang yang tak punya urat sabar. Ah, semoga saja dia tahu aku tidak bermaksud apa-apa.”
“Aku yakin dia mengerti.”
“Kakakmu sudah tahu?”
“Dia yang ajak aku berangkat siang ini. Kau baik-baik di rumah, ya. Jaga anak-anak.”
“Ya. Aku siapkan tasmu. Salam buat keluarga di sana.”
“Oke.”


***


“Hai.”
“Bagaimana?”
“Semua sudah beres. Sudah diurus rumah sakit.”
“Lalu, sekarang bagaimana?”
“Setelah kremasi, semua kumpul di kantor notaris.”
“Untuk?”
“Baca warisan.”
“Oh, cepat sekali”
“Biasa, namanya juga negara maju. Semua serba cepat. Tidak bertele-tele.”
“Hmmm....”
“Kenapa?”
“Jadi siapa dapat apa, akan dibacakan nanti sore?”
“Ya.”
“Sayang….”
“Ya?”
“Nanti malam kau sms aku. Kasih tahu aku, kamu dapat berapa. Terus, sebelum pulang, coba mampir ke apartemennya. Kumpulkan semua gelas-gelas kristalnya, ya! Aku mau itu. Lalu, buka lemari pakaiannya. Di situ ada baju-baju vintage Chanel, bawa pulang. Kalau kamu buka laci meja riasnya, cari kotak biru dari kulit kerang. Buka. Di dalamnya ada giwang mutiara hitam, gelang giok, cincin dengan mata batu mirah, bros yang dia beli di Amsterdam, bentuknya seperti cheetah. Oya, tusuk konde. Ada tusuk konde dari emas. Jangan lupa bawa tas plastik. Ambil sepatu stiletto-nya. Aku perlu buat ke pesta, kapan-kapan. Aku sebetulnya juga mau piring-piring antik dan perangkat minum tehnya. They’re real china! Di ruang tamu, buka lemari bukunya. Di laci paling bawah, ada foto Clark Gable dengan tanda tangan asli… Itu dibaw…”
“Hei, hei, hei…”
“Tidak usah malu-malu dan sok tidak butuh. Itu semua hakmu sebagai keponakannya yang terkecil. Ambil saja. Buat aku, istrimu.”
“Tapi….”
“Jangan bilang kamu tidak sampai hati. Semua setuju kalau kau yang ambil. Toh nanti tidak ke mana-mana. Buat kita, buat anak-anak! Hitung-hitung warisan dari Eyangnya.”
“Aku…”
“Sayaaaang, dengar aku: lebih baik kamu yang ambil dari pada dibiarkan membusuk atau malah dibuang oleh negara. Ya, kan?”
“Bukan, bukan begitu.”
“Terus apa? Malu? Sini biar aku yang ke sana, ambil sendiri.”
“Bukan, bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Semua yang kau mau itu sudah lama lenyap. Diambil oleh istri abangku. Semuanya.”
“Ah, kapan?”
“Begitu tante masuk rumah jompo. Setahun lalu.”
“…”

Saturday, 28 March 2009

Bukti Cinta

a shorty-short-story of the day


Suaminya bilang, itu tanda cinta:
Pipi biru legam, hidung retak, bibir sobek.
Suaminya bilang, itu harus dilakukan:
supaya ia tahu diri, tidak besar kepala, sombong.
Malam ini, di tangannya ada sebilah pisau,
berkilat terkena sinar televisi.
Kepada suaminya, yang lelap tidur,
ia ingin menunjukkan cintanya. Yang amat sangat.

Sembadra

(a shorty-short-story of the day


Senyumnya mengembang selebar mungkin.
Matanya menatap selembut mungkin.
Suaranya terdengar sehalus mungkin,
bicara pada perempuan muda di depannya :
kekasih baru suaminya, ibu anak tirinya.
Perempuan itu bilang ia ingin jadi istri utama,
dan anaknya mendapatkan warisan terbesar.
Ia mengangguk dan berjanji menjadikan keinginan itu tercapai segera.
Ketika perempuan muda itu berlalu, ia terkejut :
rerumputan tempat ia berpijak telah menjadi abu.
Hangus terbakar.

JUWITA

(serial catatan kemarin)

Aku dan Mak melangkah masuk. Ternyata di dalam sudah menunggu seorang perempuan, setinggi Mak. Mungkin seumur Mak juga. Bajunya mirip Mak, rok lebar bunga-bunga. Hanya saja yang ini rambutnya agak lain, diikat ke belakang. Begitu melihat kami berdua, dia tersenyum lebar. Tangannya maju, bersalaman dengan Mak. Denganku juga. Dia menyebut namanya, “Juwita!” Oh! Aku dan Mak berpandangan lagi.

Perempuan itu melihat kami berdua, lalu ia tertawa, “Betul Bu, taman kanak-kanaknya mengambil nama saya,” lalu katanya, “Bisa saya bantu, Bu?” sambil menyilakan Mak duduk di kursi tamu. Di depan kami ada meja pendek, meja tamu. Taplaknya terbuat dari kertas yang digunting-gunting, dibuat lubang-lubang kecil, jadi seperti renda. Di sudut-sudutnya diberi gambar bunga, daun. Aku belum pernah lihat taplak seperti ini. Bagus sekali. Barangkali Mak perlu satu seperti ini di rumah.

Aku duduk di sebelah Mak. Saat itu aku melihat rambut Bu Juwita dengan lebih jelas. Dibuat konde kecil yang ditusuk dengan semacam hiasan rambut, bulat, berwarna hitam, berlubang-lubang berbentuk bunga. Baru sekali ini aku lihat rambut dihias seperti itu. Kalau rambut Mak agak panjang, barangkali bisa dibuat seperti itu.

Mak mulai bicara dengan Ibu Juwita, tentang aku yang sudah waktunya masuk sekolah. Bu Juwita mengangguk-angguk, lalu tersenyum padaku.
“Siapa namamu?” ia bertanya memakai bahasa Indonesia. Aku memandang Mak yang juga sedang memandangi aku. Mak memberi isyarat agar aku menjawab.
“Na Willa,” kataku sambil memperhatikan mulut Bu Juwita: apakah ia akan tertawa seperti Bu Tini? Aku tunggu. Tunggu. Ternyata dia tidak tertawa. Matanya terbuka lebar, lalu dia senyum, manis sekali. Dia bilang begini, “Na Willa? Wah, saya belum pernah dengar nama itu. Bagus sekali!” Badanku langsung lurus: Bu Juwita bilang namaku bagus! Aku dan Mak saling memandang. Mak tersenyum lebar. Aku juga. Rasanya aku akan senang bersekolah di sini.

Mak lalu bicara soal uang sekolah, kapan harus bayar, kapan boleh masuk dan mulai belajar. Bu Juwita menjawab semua dengan suaranya yang seperti ... nyanyian. Dari semua jawabannya, cuma satu yang aku ingat: Na Willa boleh mulai sekolah kapan saja. Bagaimana kalau besok? Aku mau mulai besok saja. Atau bagaimana kalau…. Aku cepat mendekat ke telinga Mak, “Saiki?” aku bertanya dengan suara pelan. Tapi tidak cukup pelan, sehingga Bu Juwita bisa mendengar dengan jelas.
“Sekarang,” katanya, “pelajaran sudah selesai. Tetapi kalau mau, kamu boleh lihat-lihat ke dalam kelas. Boleh mencoba duduk di bangku yang ada. Atau memeriksa mainan yang ada di kotak besar, di samping lemari.”

Aku sesak napas! Mak tahu aku ingin melakukan itu semua. Dia menepuk telapak tanganku, “Ya, boleh. Lihatlah...” katanya. Aku melompat. Masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh Bu Juwita.

Rasanya….
Aku mau di sini saja, ah!

MENCARI (serial catatan kemarin)

Kami bersepeda melewati beberapa sekolah. Semua berhalaman luas, ada banyak anak berlari-lari ke sana ke mari. Ramai. Setiap kali sepeda mendekati pintu gerbangnya, aku menoleh, melihat Mak. Dia tidak menoleh ke sekolah itu. Mukanya tetap lurus ke depan. Dan ia tetap bernyanyi-nyanyi. Aku ikut menyanyi juga. Lebih keras dari Mak. Sepeda melaju kencang. Angin menepuk-nepuk mukaku. Beberapa kali, aku menyanyi lebih keras, mengalahkan angin yang berusaha masuk mulutku.

Aku tak ingat berapa lama kami bersepeda di jalan besar itu. Ada mobil, becak, sepeda dan trem. Mak lalu membelokkan sepeda, masuk ke jalan-jalan yang lebih sepi. Sepeda tak lagi kencang. Kami melewati satu sekolah. Sepeda jadi sangat lambat.

“Sekolah apa ini?” kata Mak.
Aku baca tulisan yang ada di papannya, “Taman Kanak-Kanak Putra Sejati.”
Mak bergumam, aku tak tahu apa. Sepeda tak jadi berhenti. Mak kembali mengayuh sepeda.
“Kenapa tidak di situ, Mak?” aku bertanya. Sebetulnya, aku cukup senang kalau Mak berhenti di situ. Di halamannya ada jungkat-jungkit selain ayunan (aku sudah punya di rumah, ingat kan?).
“Kita lihat yang lain dulu. Aku kurang suka namanya.”
“Kenapa, Mak?”
“Putra Sejati.”
“Apa artinya, Mak?”
“Putra sama dengan anak laki-laki. Sejati, sesungguhnya.”
“Anak perempuan?”
“Itulah! Mana putrinya, anak perempuannya? Jangan-jangan sekolah itu tidak punya murid perempuan.”

Setelah Putra Sejati itu, kami tak menemukan sekolah lagi. Sampai entah di belokan yang keberapa dan di jalan apa, sepeda kembali melambat. Mak pasti melihat sesuatu. Aku memutar kepala. Dan ya, di sebelah kanan jalan, di balik tanaman tinggi kurus dan berbunga jambon, ada papan kecil. TK JUWITA.

“Juwita... apa artinya, Mak?”
“Cantik,” kata Mak. Aku merasakan dagunya menyentuh kepalaku. Mak selalu berbuat begitu setiap kali bilang ‘cantik’.
“Kita berhenti di sini, Mak?” tanyaku waktu sepeda membelok ke gerbang yang terbuka. Mak mengangguk. Ia turun dari sepeda. Aku tetap duduk di kursi keranjang, di stang sepeda. Mak mendorong sepeda. Kami berdua, bertiga dengan sepeda, masuk halaman TK Juwita.

Ternyata halamannya tidak besar. Tapi tetap ada jungkat-jungkit dan ayunan juga! Tidak ada banyak kelas. Cuma ada satu ruang dengan kaca-kaca yang lebar. Dan di kaca-kaca itu tertempel banyak kertas warna, gambar ikan, burung, bunga, kupu-kupu, kucing, anjing, kapal, sepeda, bulan, bintang.... Aku tunjukkan gambar-gambar itu pada Mak. Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, “Bagus ya?”
“Siapa yang buat itu semua, Mak?”
“Aku rasa Bu Guru di sini dan teman-teman barumu.”
“Kalau aku sekolah di sini, aku juga buat semua itu?”
“Mak rasa begitu,” katanya sambil mengunci sepeda. Mak lalu menggandeng tanganku. Kami menuju pintu kayu berwarna kuning, merah dan biru. Aku ingin punya pintu seperti ini. Nanti aku bilang pada Mak. Siapa tahu dia suka juga (semua pintu rumah kami berwarna putih diberi garis tepi biru tua).

Lalu terdengar dari dalam, “Mari, mari... Silakan masuk, Bu! Ayo, Nak! Ayo, masuk!” Mak dan aku saling berpandangan. Mak tersenyum. Lebar. Alisnya naik tinggi-tinggi. Aku senang mendengar suara dari dalam itu. Aku tahu Mak pasti senang juga. Orang yang bersuara itu, rasanya baik hati. Aku yakin itu.

BERHENTI SEKOLAH (serial catatan kemarin)

Aku sampai di rumah. Mak tak ada. Barangkali ke pasar. Tapi ada Mbok. Dia sedang berdiri di pagar. Habis menyapu halaman. Melihat aku pulang, dia berteriak-teriak, keras! “Biyung! Biyuuuuuuung! Ngopo kowe, Willa?” aku cepat lari, menghindar dari tangkapan tangannya. Sambil menuju kamar mandi, aku menendang ke sana ke mari: sepatu lepas satu satu. Kaus kaki, baju, rok. Lalu aku masuk kamar, melompat ke tempat tidur. Mbok mengikuti, dia berdiri di pintu kamar, berpegangan pada tirai. Matanya membelalak, “Rambutmu, bajumu... Apa kata Mak nanti kalau dia lihat kamu seperti ini?” katanya. Mak! Iya, apa kata Mak nanti? Berarti aku harus ganti baju segera.

Aku cepat turun dari tempat tidur, menuju lemari pakaianku yang ada di ruang tengah, tempat ayunan bergantung. Tapi terlambat: Mak sudah ada di rumah. Suaranya menunjukkan kalau ia sudah sampai di ruang tamu! “Ada apa, Mbok? Pagi-pagi kok teriak-teriak!” begitu katanya. Dan aku cepat melompat ke balik lemari. Dari situ aku dengar suara sepatu Mak yang tak-tik-tok itu.

Lalu Mbok bersuara! Dasar pembilang!
Aku dengar dia bilang begini, “Nyah, Noni! Noni!”
“Kenapa Noni? Jatuh? Sakit?”
“Mboten, mboten, Nyah!”
“Lha, terus kenapa teriak-teriak?”
“Ketok e bar tarung! Kelambi ne... rambut e...!”
“Apa? Tarung? Dengan siapa? Luka? Di mana dia” aku dengar suara Mak.
Makin keras. Makin naik. Makin dekat!
“Di kamar, Nyah!” waktu Mbok bilang itu, aku sudah hampir mencapai lemari pakaian. Ternyata Mak sudah ada di depanku. Kami bertabrakan. Aku jatuh terduduk. Mak berdiri tegak. Matanya membelalak, melihat aku yang hanya memakai singlet dan pakaian dalam. Aku buru-buru berdiri.

Dari matanya, aku tahu Mak tak senang hati. Mungkin sebentar lagi aku akan kena cubit lagi.
“Cepat ambil baju ganti. Lalu ceritakan, apa yang terjadi di sekolah,” kata Mak.
Suaranya tidak keras. Tapi lurus, seperti talang air. Tidak berkelok-kelok seperti waktu membacakan cerita untukku. Lututku dingin. Telapak tanganku berkeringat.
Baju yang kuambil terlepas, jatuh. Aduh.

“Willa, cepat!” Aduh. Mak menepuk-nepuk kursi rotan, waktu aku muncul dari balik pintu. Aduh.
“Bagaimana kamu bisa sampai di rumah begitu cepat?” Aku melihat mata Mak. Tenggorokanku kering.
“Mbok bilang kamu seperti habis berkelahi. Dengan siapa?” Sekarang tangan Mak terlipat di dadanya. Mukanya dekat sekali dengan mukaku. Tidak ada senyum.
“Willa, ayo bicara,” katanya lagi. Suaranya membuat aku ingin melompat dari kursi dan berlari ke jalan. Tapi tidak bisa. Aku harus bicara. Harus cerita. Dan aku pun katakan saja apa yang terjadi di sekolah tadi. Aku bisa pastikan sebentar lagi tangan Mak sudah ada di pangkal pahaku. Mencubit, memelintir. Aduh. Aku menunggu sambil menutup mata.
“Willa, betul itu yang terjadi?” aku membuka mata waktu Mak bertanya. Tangannya masih terlipat di dada. Aku mengangguk, “Betul. Bu Tini menjewer telingaku.”
“Tapi kau injak kakinya!”
“Dia tidak percaya aku bisa baca, Mak!”
“Dan kau jambak rambut temanmu.”
“Karena mereka jambak lebih dahulu.”
“Jangan membalas, Willa! Tidak akan selesai! Adukan pada Bu Tini apa yang dilakukan temanmu itu.”
“Aku tidak suka Ibu Tini. Aku rasa dia juga tidak suka aku.”
“Ah, Willa! Guru itu baik.”
“Tidak Mak. Bu Tini jahat!”
“Dan kau tendang kaki temanmu.”
“Karena dia melihatku sambil tertawa-tawa.”
“Mungkin dia mau mengajakmu tertawa?”
“Tidak! Mukanya.... aku tidak suka lihat mukanya!” lalu aku tirukan muka Bayu. Tiba-tiba Mak tertawa. Keras sekali! Aku jadi ikut tertawa juga.
“Kenapa, Mak?” aku akhirnya bertanya waktu Mak tidak berhenti tertawa.
“Kalau mukanya seperti itu, mungkin Mak juga akan tendang kakinya juga!” katanya sambil setengah mati menghentikan tawanya.

“Willa, menendang, memukul, menjambak teman itu salah. Dan menginjak kaki Bu Guru.... Aduh, Mak harus memberi hukuman,” kata Mak setelah berhenti tertawa. Hukuman? Aku sudah sudah diganggu, dijambak, dijewer... masih dihukum juga? Aku tidak suka! Aku tidak mau dihukum! Aku menangis saja ah! “Willa!” Mak berteriak, “Diam!” aku menjerit keras. Mbok tiba-tiba muncul di balik tirai. Memeriksa apa yang terjadi. Sebentar saja. Lalu kembali ke dapur. Aku meraung. Lebih keras.
“Willa, satu!” Mak mulai menghitung. Aku masih menangis.
“Willa, dua!” Aku terus menangis.
“Willa, kalau kamu tidak berhenti menangis, Mak akan cubit kamu!” Apa? Kalau tidak berhenti malah dicubit? Kalau begitu aku harus segera berhenti mengeluarkan suara dan air mata. Berhenti! Berhenti!
Dan aku berhenti menangis. Mak menarik napas panjang.
“Willa, dengar... semua yang kamu lakukan itu salah. Tapi Mak harus bicara dengan Ibu Tini di sekolah. Kamu tunggu di rumah. Setelah Mak pulang, Mak akan tentukan hukuman apa yang harus di berikan padamu.” Mak bangkit dan mencari sepatunya. Setengah berlari, ia menyambar sepeda yang tersandar di pohon cemara. Mbok mengejar, mungkin ingin bertanya sesuatu. Terlambat. Mak sudah melaju.

Aku menunggu di rumah. Lama sekali rasanya. Aku mencari buku cerita yang sudah lama tidak kubaca.

Mak kembali waktu aku sedang makan siang di dapur, bersama Mbok.

Rambut Mak dipotong pendek, sebatas telinga. Tadi waktu ia berangkat, rambutnya yang berombak tersisir rapi, dijepit dengan jepit hitam di samping telinga kiri dan kanan. Sekarang, waktu ia berdiri di pintu, rambut Mak mekar seperti bunga. Tidak terjepit lagi. Mukanya berkeringat. Alisnya.... alisnya menyambung menjadi satu dan bagian tengahnya menukik dalam, sementara ujung-ujungnya naik sekali. Mak marah!

Aku langsung berdiri tegak. Aku pasti kena cubit! Bagaimana ini: baiknya aku langsung menangis atau menunggu sampai Mak mencubit saja? Aku bingung. Mak lalu memberi isyarat agar aku mendekat. Aku pasti dicubit! Aku rasa, baiknya langsung menangis saja. Yang keras... Atau, tunggu sampai dicubit? Supaya Mak tahu kalau aku kesakitan? Atau...

Mak menyuruh aku duduk di kursi rotan. Apa kubilang! Aku harusnya menangis saja dari tadi. Terlambat! Terlambat! Mak menarik napas, lalu ia berjongkok di depanku. Memegang lututku. Ia menarik napas sekali lagi. Sebelum bilang begini, “Mulai besok, kamu tidak usah kembali ke sekolah itu lagi. Kita akan cari sekolah baru.” Aku terlompat dari kursi. Ah, betulkah? Senang! Senang!

“Jadi aku tidak ketemu Bu Tini lagi?”
“Tidak usah. Kecuali kalau kamu memang senang padanya. Apa boleh buat, Mak harus ijinkan,” katanya sambil tersenyum. Muka kami hampir menempel. Aku lihat hidungnya yang penuh dengan titik-titik keringat.
“Sekolah di mana, Mak?”
“Kita cari.”
“Kapan, Mak?”
“Hari ini. Kamu ikut!” kata Mak.

Aku cepat berganti pakaian, lalu kami berangkat mencari sekolah. Naik sepeda. Aku duduk di kursi kecil di depan, dekat stang. Sepeda laju ke jalan besar. Aku dengar Mak menyanyi-nyanyi. Aku tahu lagunya,

Kelap kelip lampu di kapal
Anak kapal main sekoci...

Aku lupa menanyakan pada Mak, apa yang terjadi dengan Ibu Tini. Mungkin nanti malam, sebelum kami tidur.

DI KELAS (serial catatan kemarin)


Ibu Tini berjalan sangat cepat. Aku berlari-lari di belakangnya. Satu kelas, dua, tiga, empat kelas dilewati. Aku mencoba melirik ke dalam kelas-kelas yang kami lewati. Tidak bisa melihat banyak karena aku harus berlari, mengejar Ibu Tini yang sudah jauh di depan. Hampir di ujung, kami berhenti di sebuah kelas. Dari dalam terdengar suara yang keras, ramai. Aku ingin masuk, tetapi Bu Tini berdiri, diam di depan pintu kelas yang tertutup. Aku jadi ikut berdiri di sampingnya. Lalu ia menoleh ke arahku, mulutnya jadi kecil karena semua bibirnya berkumpul di tengah. Aku betul-betul ingin pulang. Bagaimana caranya, ya?

Lalu kudengar Bu Tini bicara, “Ayo masuk! Jangan nakal, saya tidak suka anak nakal!” aku mengangguk-angguk. Aku tahu anak nakal itu seperti apa. Aku bukan anak nakal. Bukan.

Ibu Tini mendorong aku masuk. Kelas yang ramai langsung diam. Semua yang ada di kelas memandangi Bu Tini. Bukan, bukan…aku! Mereka semua melihat aku dengan muka heran. Malah ada yang sampai membuka mulutnya lebar-lebar. Kenapa harus begitu? Aku melihat bajuku, sepatu, tas, tempat makanan dan minum. Ada yang salah? Pita masih terikat di kedua kuncirku. Tapi mereka terus saja memandang heran. Aku tidak suka. Aku pelototi mereka satu-satu. Lalu mereka mulai menunduk, buang muka. Nah, begitu lebih bagus.

Bu Tini lalu bilang namaku Na Willa. Tiba-tiba satu kelas tertawa. Keras sekali! Ibu Tini juga ikut tertawa. Apa yang lucu? Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa? Aku tak suka. Kaki kubanting keras-keras. Ibu Tini kaget. Dia langsung berhenti tertawa. Alisnya berkumpul di tengah, menjadi garis lurus. Bibirnya kembali mengumpul di tengah. Aku melihat lurus ke matanya. Aku tak suka dia menertawakan namaku. Kami berpandangan, lalu ia pura-pura melihat ke pintu kelas. Setelah itu ia berteriak, “Semua diam!” Anak-anak itu berhenti terbahak-bahak, perlahan-lahan. “Mulai hari ini, temanmu ini akan belajar bersama kalian. Dia akan duduk di ....” Bu Tini melihat ke seluruh kelas. Lalu matanya berhenti di sebuah bangku di tengah. Di situ duduk seorang anak laki-laki. Rambutnya berdiri seperti sikat kamar mandi. Matanya mengantuk. Dia sedang ingusan, “Sebelah Bayu.” Si ingusan itu Bayu namanya. Ibu Tini mendorong aku, bergerak ke bangku di deretan ketiga dari depan, kedua dari pintu. Di depannya duduk seorang anak laki-laki berbadan kecil, berambut keriting. Di belakang Bayu, duduk sepasang anak perempuan. Yang satu berponi, satu lagi rambutnya diikat di tengah kepala. Bersama-sama mereka menjulurkan lidah. Aku juga: weee! Semua anak menoleh ke tempat dudukku. Ada apa? Aku memeriksa baju dan sepatuku. Semua masih seperti tadi. Tidak ada yang berubah.

“Na Willa, duduk!” aku dengar Ibu Tini memberi perintah. Aku menurut. Bangku kayu ternyata tinggi. Kakiku berjuntai. Tas berisi makanan, minum, pensil, aku gantungkan di sandaran. Ibu Tini bilang hari ini kami akan belajar menulis. Ia mengeluarkan setumpuk buku, menyebut nama, lalu satu-satu teman baruku maju, mengambil buku. Aku menunggu. Buku habis dibagikan. Namaku belum dipanggil. Semua menge-luarkan pensil. Siap menulis, tapi mata mereka melihat ke arahku. Di meja Bu Tini sudah tak tersisa buku. Aku mengambil tas, siapa tahu Mak membawakan buku untukku. Tak ada. Hanya pensil, penghapus, kotak kue saja yang ada. Ah, ya aku ingat: semalam Mak bilang kalau buku akan aku dapat dari sekolah. Aku harus minta buku dari Bu Tini. Aku turun dari bangku dan menghampiri Bu Tini.

“Ada apa?” ia bertanya dengan suara keras. Alisnya masih menyambung. Aku bilang, aku tak dapat buku. Dia mendengus, bulu hidungnya sampai keluar lubang, lalu dia bilang, “Kamu kan anak baru! Bukumu belum ada. Duduk saja dulu di sana. Perhatikan bagaimana temanmu menulis. Kamu toh belum bisa menulis, kan?”
“Bisa, aku bisa menulis, Bu,” kataku. Ibu Tini tertawa, “Ya, ya, ya... kamu bisa menulis tapi tidak bisa dibaca kan?” Ia lalu memberi isyarat agar aku kembali ke bangku. Aku tetap berdiri saja di samping mejanya. Aku bilang, “Aku betul-betul bisa menulis, Bu!”
“Tidak ada anak yang bisa menulis sebelum dia sekolah. Kamu juga tidak bisa. Sana duduk,” katanya dengan suara yang lebih keras dari tadi.
Aku tetap berdiri, memegang ujung mejanya, “Tapi aku bisa!” kataku.
“Kamu melawan, ya?” Ibu Tini tiba-tiba berdiri, tangannya terpasang di pinggang. Matanya tiba-tiba berubah jadi bola hitam yang besar! Mulutnya yang tadi membulat, sekarang menganga lebar. Giginya kelihatan semua! Ada tambalan hitam, di belakang!

Aku dengar teman-temanku menarik napas. Aku juga. Ibu Tini marah. Tapi kenapa? Aku kan hanya bilang kalau aku bisa menulis. Aku juga bisa membaca, tapi itu belum aku sampaikan. Apa aku harus bilang tidak bisa apa-apa? Tapi aku bisa! Ibu Tini menunjuk bangkuku, “Kembali duduk di sana. Kamu saya hukum karena melawan!” Dihukum! Dihukum? Aku menghentakkan kaki. Aku tidak mau dihukum. Tidak bisa dihukum. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku cuma bilang aku bisa menulis. Aku tetap berdiri di samping mejanya. Ibu Tini, keluar dari mejanya, mendorong aku menuju bangku. Aku tetap ingin berdiri di situ. Tapi dorongan Ibu Tini lebih kuat. Kakiku bergerak maju. Lalu dengan sekali rengkuh, dia mengangkat aku, mendudukkan di bangku kayu itu.

Aku kesal sekali. Aku duduk bersandar. Tanganku terlipat. Aku tak mau melakukan apa-apa hari ini. Bayu, dengan ingusnya yang mengalir sampai ke tepi bibirnya, melihat ke arahku. Kenapa melihatku terus? Apa yang aneh? Aku sepak kakinya. Aku tidak suka dipandangi seperti itu. Bayu balas menyepak. Sakit. Aku sepak lagi. Lebih keras. Dia ingin membalas, tapi kaki kuangkat tinggi-tinggi. Kakinya kena bangku kayu. Ia menjerit kesakitan. Ingusnya meluncur ke mulutnya. Mukanya jadi jelek sekali. Aku tak tahan melihatnya, aku tertawa keras-keras.

Tiba-tiba kepang rambutku di tarik dari belakang. Dua anak perempuan penjulur lidah yang melakukannya. Aku berbalik. Menghadap mereka. Tanganku menjulur, yang satu menangkap kuncir rambut yang terletak tepat di tengah kepala, yang satu menarik poni. Aku tarik kuat-kuat. Mereka menjerit keras-keras. Aku tertawa. Tiba-tiba kurasakan telingaku perih. Ibu Tini sedang memutar daun telingaku. Aku terangkat. Tangannya kutepis. Ia kaget dan pelintirannya terlepas. Aku hampir terbanting di bangku kayu. Tapi kakiku sempat menjejak lantai. Cepat aku berdiri, kuhentakkan kaki, dan sepatu Bu Tini yang lancip ujungnya itu berada di bawa telapak kakiku. Ia menjerit. Tangannya melayang, mencari aku. Cepat aku bergerak ke luar bangku. Tangan Bu Tini terhempas ke sandaran bangku. Ia menjerit lagi, lalu berteriak memanggil namaku. Keras sekali.

“Na Willa! Sini! Kurang ajar sekali kamu! Saya hukum kamu! Sini! Sini!” Lalu ia bergerak ke depan kelas, cepat-cepat membuka lemarinya. Aku menunggu di dekat papan tulis. Apa yang akan keluar dari lemari coklatnya itu? Sekejap saja ia sudah berbalik dengan sebatang rotan di tangan. Ah, rotan! Rotan!

Aku melompat. Menuju pintu. Aku keluar. Aku lari. Ibu Tini berteriak, keras sekali. Aku dengar suara langkahnya di belakangku. Mengejar. Aku lari sekencang mungkin. Melewati kelas-kelas yang berderet, pintu gerbang... aku terus berlari. Terus sampai ke jalan raya. Aku menoleh ke belakang. Ibu Tini sudah hilang. Aku berhenti berlari. Aku lihat penanda jalan. Ah, sudah dekat rumah. Aku teruskan berjalan. Pulang.

IBU TINI (serial catatan kemarin)

Paginya, aku bangun lebih dahulu dari Mak. Ia terkejut melihat aku sudah duduk tegak di ujung tempat tidur. “Willa, ini masih pagi sekali!” katanya sambil melihat jam di dinding. Mak cepat turun dari tempat tidur, lalu bergerak ke dapur. Mbok sudah bangun. Sudah masak air dan membuat teh. Sekarang ia sedang menyiapkan nasi semalam. Mau dibuat nasi goreng. “Buat aku?” Mak mengangguk.
Mbok menjerang air lagi. Buat aku mandi.
“Ambil bajumu, siapkan di kamar mandi. Anak sekolah harus belajar mengatur semuanya sendiri,” kata Mak. Aku menurut. Air cepat sekali matang. Mbok menuangkannya di ember, mencampurnya dengan air dingin. Aku mandi pakai sabun coklat cap kumbang. Wangi.

Habis mandi, berpakaian, sisir rambut, minum susu cap sapi tertawa, pakai bedak, pakai kaus kaki dan sepatu, memeriksa botol minum dan tromol isi nasi goreng ditaburi telur dadar, ambil karet buat mengikat sendok di tromol: aku berangkat. Naik sepeda bersama Mak, duduk di depan, di keranjang yang dipasang di stang depan. Mukaku dingin, kena angin.
“Sekolahmu dekat, cuma lima gang dari sini. Hari ini kita naik sepeda, supaya cepat sampai. Siapa tahu Mak harus ketemu dengan kepala sekolah atau guru kelasmu. Besok jalan kaki saja.” Tentu! Tentu!

Mak menghentikan sepedanya di depan gerbang besi karatan yang terbuka lebar. Aku turun. Kami melewati gerbang dan anak-anak berbadan besar –berteriak-teriak, lari-lari, tertawa-tawa, menuju rumah besar dengan banyak pintu, jendela, di seberang halaman. Ini sekolahku. Yang mana kelasku?

Mak mendorong sepedanya ke tempat penitipan sepeda di sudut halaman. Lalu kami bergerak lagi menuju rumah besar itu. Mak menarik tanganku ke arah ruangan paling ujung, paling kecil. Pintunya terbuka. Kami masuk. Di dalam duduk seorang perempuan agak tua –tapi lebih muda dari Nyonya Chang dan Mbok—duduk di belakang sebuah meja yang ditutup taplak batik. Di atas mejanya ada banyak kertas dan buku ditumpuk jadi satu.

Mak bilang selamat pagi, perempuan itu menyilakan kami duduk, ia bertanya apa aku anak yang akan sekolah hari itu, Mak menjawab ya, aku tersenyum lebar, duduk manis dengan tangan terlipat. Perempuan itu lalu bilang, “Saya Ibu Hermin. Kepala sekolah di sini. Mulai hari ini kamu sudah bisa sekolah di sini. Sebentar lagi gurumu, Ibu Tini akan datang. Kamu bisa ikut dia ke kelas.” aku cepat-cepat mengangguk. Jantungku berdebar-debar. Aku dengar Mak masih bicara-bicara dengan Ibu kepala sekolah hari itu pakai kebaya hijau dan kain coklat. Kacamatanya tebal, berbentuk segitiga terbalik.

Aku terus memandangi pintu sampai masuk seorang perempuan kurus, tinggi, memakai rok span bunga-bunga. Blusnya biru tua. Rambutnya di ekor kuda. Ia berjalan ke arah kami. Lalu Ibu kepala sekolah mengangkat kepala, dia bilang, “Nah, ini Bu Tini! Willa, beri salam pada Bu Tini.” Ini dia Bu Tini. Ia mengangguk ke arah Bu kepala sekolah dan Ibu. Lalu melihat ke arahku. Aku ingat, waktu itu aku tersenyum lebaaaaar sekali. Tetapi Ibu Tini tidak ikut tersenyum. Ia hanya melihatku. Terus. Aku berhenti tersenyum. Tiba-tiba aku ingin pulang! “Willa, Mak pulang ya. Sampai nanti!” Mak berdiri, mencium pipiku, bersalaman dengan Ibu kepala sekolah dan Ibu Tini, lalu keluar dari pintu kantor. Aku tidak ingin ikut Ibu Tini Tidak Senyum ini. Aku mau pulang bersama Mak saja! Tapi Mak sudah jauh dengan sepedanya.

Saturday, 21 February 2009

SEKOLAH (serial catatan kemarin)


Mak pulang agak sore. Aku sudah melihatnya sejak sepedanya masuk gang, menuju rumah kami. Aku berlari ke luar rumah. Ketika sudah dekat, aku lihat ada beberapa kantong kertas diikat tali, tertumpuk di boncengan sepedanya.

Mak turun dari sepeda, lalu kami berjalan beriringan menuju rumah. “Sekolahnya, Mak?” aku tak sabar lagi, aku harus tanyakan yang satu itu. Mak mengangguk-angguk. Ia tersenyum. Lebar. “Ya, kamu akan sekolah.” Hebat! Aku betul-betul sekolah.
“Kapan, Mak?”
“Kalau besok, mau?” Aku melompat. Besok! Mak berteriak, menyuruhku diam dan tenang karena aku hampir jatuh karena terlalu semangat melompat ke sana ke mari. Aku terlalu senang. Waktu masuk rumah, aku lihat Ida berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Ha, mulai besok bukan cuma dia anak perempuan yang sekolah di gang ini. Aku juga. Aku, sekolah.

Di rumah, Mak menurunkan bawaannya. Isi kantong itu macam-macam. Ada baju. Untukku. Ada pita. Untukku. Ada buku gambar. Untukku. Ada buku tulis, pensil, penghapus, tas. Semua untukku. Lalu ada kotak kecil dari kaleng, “Ini apa, Mak?”
“Tempat bekal makanan yang harus kau bawa ke sekolah.” Ah! Lalu Mak mengeluarkan sebuah botol kecil yang gemuk, terbuat dari plastik. Warna kuning. “Kalau ini?”
“Itu botol minum. Kalau tak bawa minum, kau akan kehausan setelah main di sekolah dan cekukan setelah menghabiskan bekal makananmu,” kata Mak. Ah! Ah!
Aku memeriksa lagi semua satu persatu. Barang baru selalu harum. Mak membantu membereskan, “Willa, jaga barang-barang ini dengan baik. Ini hadiah dari Nyonya Chang. Mak tidak punya uang untuk beli semua ini. Kiriman Pak belum datang dari Jakarta.” Oh. “Uang sekolahmu, juga dibayari Nyonya Chang.” Oh, oh. “Mulai besok kau akan sekolah. Belajar yang rajin. Jangan nakal di sekolah. Kita tunjukkan pada Nyonya Chang bahwa pemberiannya tidak sia-sia. Semua berguna. Willa mengerti?” kata Mak lagi. Aku buru-buru mengangguk. Janji: aku akan belajar baik. Rajin. Tidak nakal. Tidak menangis di sekolah. Janji.

Malam itu aku makan sedikit. Perutku terasa sangat kenyang. Biasanya aku langsung mengantuk. Tapi malam ini tidak. Aku membantu Mak menyiapkan semua yang harus aku pakai dan bawa besok. “Sekolah itu seperti apa, Mak?” aku bertanya pada Mak.
“Besok kamu lihat sendiri, Willa.” Kata Mak.
“Aku ketemu siapa besok, Mak?”
Mak tersenyum lebar lalu katanya, “Teman-teman sekelasmu. Kelas Taman Kanak-kanak. Lalu Ibu Guru.”
“Ibu guru? Siapa namanya?”
“Ibu Tini..”
“Cantik?”
“Ya.”
“Pintar?”
“Pasti.”
“Bisa baca?”
“Tentu! Dia akan membantu kamu membaca lebih cepat, lebih banyak, karena ibu gurumu punya banyak buku cerita.”
“Lebih banyak dari buku di rumah ini?”
“Tentu! Ibu guru punya kamar khusus untuk buku. Semua anak boleh baca buku yang ada di situ. Nama kamar itu perpustakaan.”
“Perpusta...”
“Ka-an.”
“Aku suka per-pus-ta-ka-an.”
“Pasti.”
“Boleh baca berapa buku di per-pus-ta-ka-an, Mak?”
“Sebanyak yang kamu suka.”
“Aku betul-betul suka per-pus-ta-ka-an kalau begitu.”
“Ya, harusnya begitu...”
“Aku boleh terus di per-pus-taka-an, Mak?”
“Hmm, tidak boleh terus-menerus. Kamu tetap harus masuk kelas. Duduk bersama teman-temanmu, bersama Bu Guru. Belajar.”
“Belajar?”
“Ya, belajar menulis yang bagus. Menggambar... menggunting, menempel... Menyanyi...”
“Aku sudah bisa menyanyi. Oh, oh Hestiiii!”
“Bukan lagu itu! Kamu nanti belajar lagu lain, lagu anak-anak.”
“Tapi aku suka Oh, oh, oh Hestiii... mengapa wajahmu mirip dia!”
“Itu bukan lagu anak-anak, Willa. Sebaiknya jangan menyanyikan lagu itu di sekolah nanti, ya.”
“Ibu guru tidak suka Hesti?”
“Mungkin suka, tetapi kalau di sekolah, kamu menyanyikan lagu anak-anak.”
“Kalau lagunya tidak enak, bagaimana?”
“Pasti enak. Dan kamu harus menyanyikan lagu itu.”
“Aku rasa lagunya pasti tidak enak...”
“Willa! Sudah, kita lihat saja besok. Sekarang kamu harus tidur supaya besok bisa bangun lebih pagi,” kata Mak. Aduh, mengapa harus ada tidur? Aku ingin cepat bisa sampai ke sekolah.
“Sana, cuci kaki, sikat gigi, cuci muka... ganti baju. Lalu masuk ke kamar Mak saja.” Aku langsung melompat. Aku paling senang tidur sama Mak. Karena pasti dapat cerita. Dapat nyanyian. Dan bisa memeluk lengan Mak yang halus.

Thursday, 19 February 2009

Bukti Cinta

a shorty-short-story of the day


Suaminya bilang, itu tanda cinta:
Pipi biru legam, hidung retak, bibir sobek.
Suaminya bilang, itu harus dilakukan:
supaya ia tahu diri, tidak besar kepala, sombong.
Malam ini, di tangannya ada sebilah pisau,
berkilat terkena sinar televisi.
Kepada suaminya, yang lelap tidur,
ia ingin menunjukkan cintanya. Yang amat sangat.

Monday, 16 February 2009

MENUJU SEKOLAH (serial catatan kemarin)


Tadi pagi Nyonya Chang, datang ke rumah. Aku suka melihat rambut Nyonya Chang: kuning, halus, selalu digelung seperti siput, di bagian belakang kepala. Setiap kena lampu atau sinar matahari, rambut Nyonya Cang tampak mengkilat. Kata Mak, waktu muda Ny Chang pasti cantik sekali, karena sekarang saja –dengan muka penuh kerut—dia tetap cantik. Aku setuju dengan Mak. Satu lagi yang aku suka dari Nyonya Chang: ia selalu membawa oleh-oleh untukku. Hari ini aku dapat coklat payung sekantung penuh. Dan Mak dapat setumpuk buku. Aku berharap semoga ada buku anak-anak yang bisa aku baca…

Mak menyuruhku memberitahu Mbok, Nyonya Chang sudah datang. Artinya, Mbok harus menyiapkan teh hangat, gula dipisah, sendok kecil. Kalau ada kue, pasti ikut dikeluarkan. Setelah tugas selesai, aku segera ke ruang tengah, di balik ruang tamu. Aku duduk di kursiku. Di bawah jendela. Dari situ aku bisa mendengar Nyonya Chang dan Mak bicara. Nyonya Chang menanyakan Pak. Mak bilang kalau Pak masih di Jakarta. Belum bisa pulang. Masih banyak pekerjaan.

Aku suka mendengar Nyonya Chang bicara. Lain. Tidak seperti Mak, Pak atau siapa saja yang aku kenal. Aku pernah tanyakan itu pada Mak. Ia bilang itu karena Nyonya Chang bukan orang Indonesia. Dia orang Amerika yang sudah lama tinggal di Indonesia dan kawin dengan Tuan Chang, pemilik toko buku di Kembang Jepun.

Belum lama mereka bicara, aku mendengar namaku disebut-sebut. Aku langsung duduk tegak. Nyonya Chang bilang begini, “Martha, Willa harus masuk sekolah.” Ha! Sekolah! Aku mau itu! Apa kata Mak? Ayo, jawablah Mak! Aduh, Mak jangan diam saja!
“Mungkin kamu bisa mengajarnya membaca, menulis. Tetapi dia perlu mengenal dunia sekolah. Dia harus punya teman di luar teman-teman di sekitar rumah. Lalu ada guru… Banyak yang harus ia pelajari di sekolah.” Mak… Mak tetap diam. Aku sangat ingin mengintip. Aduh, Mak pasti sedang menggeleng-gelengkan kepala. Tak setuju. Tiba-tiba aku sangat ingin menangis. Sedih: Ternyata Mak tak ingin aku sekolah! Aku bangun dan meninggalkan kursi rotanku. Aku ke dapur. Mbok ada di situ, sedang mengupas labu siam. Dia bertanya, mengapa mukaku merengut. Aku sesak napas waktu mencoba menjawab pertanyaannya. Lalu aku menangis di pangkuannya. “Opo maneh tha?” katanya. Hari itu tangisku tidak bersuara.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Mak sudah ada di sampingku. Ia memandangku dengan heran. Alisnya terangkat tinggi-tinggi, “Nangis? Kenapa? Ndak mau sekolah?” Apa kata Mak? Ndak mau sekolah? Bukan! Bukan! Salah! Aku menangis karena…. Ah, sudah! Sudah! Aku buru-buru menghapus air mata, berdiri tegak di depan Mak, “Aku sekolah, Mak?”
“Ya. Harus. Kamu mau?” kata Mak. Aku melompat-lompat. Mbok aku peluk. Dia tertawa sambil menggeleng-geleng kepala.
“Mak mau pergi sama Nyonya Chang. Dia mau membantu Mak mendaftarkan kamu sekolah. Kalau bisa mulai besok,” kata Mak lagi. Besok! Besok? Aku melompat-lompat lagi dan baru berhenti setelah kakiku menabrak dingkliknya Mbok. Sakit. Mak memeriksa kakiku. Ternyata baik-baik saja. Ia mengusap kepalaku, lalu bergegas masuk kamar. Ganti pakaian. Bawa tas kempit. Pakai selop, berangkat bersama Nyonya Chang. Berdua mereka pergi, naik sepeda beriringan.

Hari itu, aku terus menyanyi. Tersenyum terus. Tertawa terus. Aku tak sabar menunggu Ida pulang sekolah. Juga Dul. Mereka harus tahu, mulai besok aku juga sudah seperti mereka. Jadi anak sekolah. Aku tak sabar menunggu Ibu pulang. Tapi... Mengapa lama sekali ia pergi?

RADIO bagian 2 (serial catatan kemarin)


Sore ini aku tidak boleh ke rumah Ida. Tidak boleh main di kamar boneka. Tidak boleh main ayunan. Mak marah. Penyebabnya: ERES, radio kami. Bukan, bukan Eres.... Tapi aku. Aku melakukan sesuatu pada ERES.

Tadi siang, waktu Mak pergi ke rumah Tante Lily, di gang 10, aku naik ke bufet, ke tempat radio. Boneka dakocan yang ada di pojok kanan radio seperti memanggil-manggil. Jadi aku datang, mendekat. Aku putar tombol di sebelah kiri. Lampu menyala. Terdengar bunyi nguiiiiiing.... maka cepat aku putar tombol sebelah kanan. Ke kiri, ke kanan, sampai keluar suara. Dari suara yang keluar, aku tahu, aku sudah sampai di gelombang RRI. Dia –laki-laki di radio itu—bicara sebentar. Lalu keluar lagu.

Aku tengok ke samping kiri, semua tertutup rapat. Aku lihat ke samping kanan, sama saja. Aku tarik ERES agak ke depan. Ternyata bagian belakang ditutup semacam papan tipis (setelah semua ini lewat, Mak bilang, penutup itu cardboard namanya. Bukan papan). Aku lihat ada empat sekrup yang terpasang di setiap sudutnya. Aku tahu cara membukanya: pakai obeng. Cepat aku turun. Aku tahu betul di mana obeng bisa ditemukan: kotak alat-alat Bapak yang selalu tersimpan di sudut ruang tengah. Ya, ruang yang ada ayunannya itu.

Ternyata obeng Bapak tidak cuma satu. Banyak! Ada yang kecil, sedang, besar. Ada yang gepeng, ada yang ujungnya terbelah empat. Aku ambil yang kecil, yang ujungnya terbelah empat. Aku yakin ini yang paling tepat. Harusnya... dan memang cocok.

Oh, membuka sekrup itu GAMPANG SEKALI! Sebentar saja, sekrup itu makin naik-naik-naik.... lalu terlepas sendiri. Lalu empat sekrup terlepas. Papan tipis masih menempel di tempatnya. Ada lubang kecil. Aku masukkan jari ke dalamnya. Pas sekali. Malah terlalu pas. Jariku seperti digigit oleh lubang kecil itu. Aku tarik... papan tipis itu ikut tertarik. Jariku masih ada di lubang kecil itu. Dan semua yang Mak bilang betul. Tidak ada laki-laki yang suka omong-omong, tidak ada Lilies Suryani, tidak ada pemain gitar, terompet, piano... Tidak ada siapa-siapa. Cuma ada lampu kecil yang menyala. Lalu ada kabel kawat kuning yang dililit, ada kabel dari kiri disampirkan ke kanan, dari kanan ke kiri. Ada lampu-lampu kecil. Aku mencoba memegang lampu yang menyala itu, ketika tiba-tiba Mak sudah berdiri di sampingku. Sekali rengkuh, Mak memelukku, menggendong dan menurunkan aku dari buffet. Papan tipis itu masih menyangkut di jari telunjukku.

Aku dengar Mak menggeram. Seperti kucing yang sedang marah.
Aku lihat alis Mak tersambung menjadi satu. Dahinya penuh kerutan.
Mak mendudukkan aku di kursi rotan, melepas papan tipis dari telunjukku dan meletakkannya ke atas bufet.
“Apa yang Mak bilang kemarin tentang radio ini, Na Willa?” Mak bertanya. Aku diam saja. Jantungku –jangan-jangan—sudah pindah ke leher. Aku bisa merasakan detak jantungnya di situ. Keras sekali. Aku menelan ludah, mencoba mengeluarkan suara. Tidak bisa.
“Mak bertanya, kamu harus menjawab,” kata Mak dengan suara lurus seperti penggaris besi. Aku melihat matanya: aku langsung memejamkan mataku. Mak marah sekali! Aku tahu.
“Na Willa...”
“Mak bilang aku tidak boleh main-main dengan radio. Itu bukan mainan,” akhirnya aku bicara.
“Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?”
“Aku ... aku cuma mau lihat apa yang ada di dalamnya, Mak!” mataku panas, tenggorokanku kering. Mak menghela napas. Kepalanya menunduk. Dan waktu diangkat kembali, Mak bilang, “Membuka radio sendiri dan dalam keadaan menyala itu berbahaya sekali, Willa!” kata Mak lagi. Suaranya masih lurus seperti penggaris. Tapi alisnya sudah kembali ke tempat semula.
“Ingat waktu kamu memasukkan telunjuk ke lubang listrik?” Mak mengingatkan aku pada suatu peristiwa beberapa waktu lewat. Aku mengangguk.
“Masih ingat rasanya?” Aku mengangguk lagi. Rasanya badanku kaku, jantungku naik sampai muka, semua bergetar...
“Membuka radio yang menyala, bisa membuatmu kena listrik lagi. Itu berbahaya sekali, Willa. Mengerti?”
Aku mengangguk.

Mak lalu bangun dan meninggalkan aku di kursi rotan sendirian. Ia berjalan menuju bufet, mengambil papan tipis itu, juga semua sekrup dan obeng yang masih berserakan di sekitarnya. Lalu Mak melambai ke arahku. Aku bangun dan mendekat.
Mak mencabut kabel yang masuk ke dalam lubang listrik. Aku disuruhnya naik ke bufet. Apa maksud Mak?
“Mau tahu kan seperti apa isi radio? Sini, naiklah. Lihat.” Mak menyuruhku melihat isi radio? Betulkah?
Aku putuskan untuk menurut.
Dan Mak menjelaskan semua yang ada di dalam radio itu....
Begitu selesai, Mak mengambil papan tipis, semua sekrup dan obeng, “Sekarang, pasang kembali barang ini,” katanya, “Sebelum terpasang, jangan turun dari bufet.” Lalu dia meninggalkan aku sendiri. Dengan semangat aku mulai mencoba memasang papan tipis itu.

Ternyata memasang kembali itu tidak mudah. Tanganku sudah pegal. Keringatku menetes-netes.
Tidak sengaja, aku mengerang. Jengkel.
“Ada apa, Willa?” aku dengar suara Mak, “Mau Mak bantu?”
“Tidak usah, Mak. Aku bisa!” kataku dengan suara keras. Aku jengkel sekali. Sekrup harus dipasang satu-persatu. Buat memutar sekrup dengan obeng, aku perlu dua tangan. Tapi papan juga harus ditahan, supaya sekrup bisa terpasang dengan baik di lubangnya. Aku perlu dua tangan lagi! Tapi minta bantuan Mak, aku tidak mau. Aku yang buka, aku yang harus pasang.
Ternyata yang sulit dipasang adalah sekrup pertama dan kedua. Setelah itu, gampang!

Waktu dua sekrup terpasang, semua jadi lebih mudah. Waktu Mak bilang waktu makan siang sudah tiba, semua sekrup sudah terpasang. Mak memeriksa dengan memutar obeng, mengencangkan. Memasang kembali taplak kecil di bagian atas radio. Lalu ia mendekatiku lagi, “Willa, kamu sudah melanggar janji pada Mak, bahwa kamu tidak akan membuka radio. Dan kamu melakukannya saat radio itu tersambung listrik. Kamu membahayakan diri sendiri. Untuk itu, kamu harus Mak hukum.” Aku mengangguk.
“Hari ini kamu tidak boleh main sama sekali. Tidak boleh ke rumah Ida, Bud atau Dul.” Aku mengangguk lagi.
“Ada pertanyaan?”
Aku mengangguk.
“Apa?”
“Tidak boleh main, tapi boleh baca, Mak?”
Mak menghela napas. Menengadah sebentar, melihat ke langit-langit rumah. Lalu, “Ya, boleh. Tapi Mak yang pilih bukunya.”
Hari itu aku membaca buku Mak yang sudah sobek bagian sampulnya. Aku tidak ingat membaca berapa halaman. Tulisan di mana-mana. Gambarnya sedikit sekali. Setelah tiga puluh halaman, baru ada satu gambar: perempuan-perempuan yang memakai rok panjang dan mengembang seperti kurungan ayam. Oya, buku itu bercerita tentang empat anak perempuan yang tinggal bersama Ibu mereka. Bapak mereka, pergi perang.

Friday, 13 February 2009

Suami

a shorty-short story of the day

Dua sahabat duduk di meja bundar.
Minum kopi.
Mereka berbagi cerita tentang suami masing-masing.
Yang satu bilang bilang suaminya tak tahu diri,
semakin hari semakin lupa usia,
bergaya bak orang muda.
Yang lain berkata suaminya semakin menampakkan usia.
Sudah tua. Mulai pikun. Pelupa.
Berdua mereka tertawakan suami masing-masing:
Lelaki yang sama.

April 2007

Wednesday, 11 February 2009

RADIO bagian 1 (serial catatan kemarin)


Mak suka menyanyi. Pak juga. Tapi aku lebih suka menyanyi bersama Mak. Lagu yang suka dinyanyikan Mak selalu ada di radio. Lagu-lagu Pak, tidak. Aku cuma dengar dari Pak saja dan tidak bisa aku ikuti. Mak bilang, Pak suka nyanyi lagu bahasa Belanda dan Inggris.

Setiap hari, dari pagi sampai malam, Mak selalu mendengarkan radio. Kalau ada lagu, apa saja, Mak pasti ikut menyanyi. Mak bisa menyanyi lagu apa saja. Kalau ada lagu yang dia tak tahu, pasti Mak bilang, “Ah, lagu baru!” Lalu cepat-cepat Mak ambil pensil dan kertas. Mencatat kata-kata lagunya. Nanti kalau lagu itu kembali muncul, catatan lagu Mak pasti sudah lengkap. Dan kalau terdengar lagi, Mak pasti mengajak aku duduk di sampingnya. Menyanyi bersama Mak. Waktu aku sudah bisa baca, Mak menyuruh aku ikut membaca catatan lagunya. Aku suka menyanyi dengan Mak.

Kalau lagu habis dan orang di dalam radio itu mulai omong-omong, Mak pasti berdiri di depan radio. Alis Mak selalu bersambung kalau mendengarkan omong-omong. Mak bilang, kita harus rajin mendengarkan radio. Karena siapa tahu ada berita penting yang disampaikan.

Radio kami, Eres namanya, berbentuk kotak besar. Terbagi atas dua bagian. Yang bawah, agak keras, tempat menempel dua tombol besar yang letaknya berseberangan: di kiri dan kanan. Tombol yang kiri untuk menyalakan radio. Kalau diputar, berbunyi klik. Lalu lampu kecil yang ada di bagian keras itu menyala. Dan tampaklah garis-garis dan angka di sepanjang bagian itu. Kalau tombol kanan di putar, jarum kecil warna merah akan berjalan-jalan. Mak bilang, jarum itu menunjukkan gelombang radio yang tepat. Diputar ke kiri, jarum ke kiri. Di putar ke kanan, jarum di kanan. Kalau jarum berhenti di tempat yang salah, keluar bunyi kresek-kresek-kresek, lalu nguiiiiiiiiing! Aku suka kalau bunyi itu keluar. Tapi Mak tak suka. Sakit di telinga, katanya. Mak paling tahu di mana jarum harus berhenti. Di tempat itu, agak di tengah-tengah, selalu keluar banyak lagu. Juga omong-omong. Mak bilang, itu gelombang RRI. Radio Republik Indonesia. Di atas lubang itu ada bagian yang ditutup kain berlubang-lubang, dihiasi gambar boneka dakocan di sebelah kanannya. Bagian ini selalu bergetar kalau ada suara yang keluar dari radio.

Suatu hari, aku naik kursi, naik ke bufet, mencoba membuka bagian radio yang ada kainnya. Mak berteriak-teriak, “Astaganaga, Willa! Mau diapakan radio itu!” Waktu aku bilang mau melihat orang-orang kecil yang ada di dalam radio, yang selalu omong-omong dan menyanyi itu. Mak langsung menangkap tanganku. Aku ditarik turun dari kursi. Mak bilang, tak ada orang kecil di dalam radio. Yang ada hanya peralatan listrik. “Lalu yang menyanyi dan omong-omong setiap hari itu?” Mak bilang peralatan di dalam radio itu menangkap gelombang yang disampaikan dari stasiun radio, RRI. Di sana ada orang yang memutar lagu dan bicara-bicara, dan disampaikan lewat udara, dan masuk ke radio kami. Juga radio orang-orang lain. Aku tak mengerti apa yang diterangkan oleh Mak. Tapi aku tahu Mak betul. Kalau tidak, bagaimana bisa radio sekecil itu berisi penyanyi dan orang yang suka omong-omong itu?

“Willa, coba bayangkan: kalau di radio kita ada Lilis Surjani, di radio Ida juga ada Lilis Surjani. Kalau ada orang di dalam radio, berarti ada banyak Lilis Surjani. Padahal, di dunia ini cuma ada satu Lilis Surjani. Dengan alat-alat yang ada di dalam radio ini dan di studio, kita semua bisa dengar suara Lilis Surjani pada saat yang sama. Mendengar berita bersama-sama, dengan radio yang berbeda-beda, di tempat masing-masing...Kau mengerti Willa?” Aku mengerti. Jadi di dalam radio tidak ada orang, cuma alat-alat listrik. Tapi seperti apa alat listriknya? Bagaimana bisa mengeluarkan lagu dan omong-omong? Bukankah tadi Mak bilang kalau orang yang omong-omong dan lagu diputar di tempat lain? Aku ingin tahu. Aku mau lihat! Tiba-tiba Mak pegang tanganku, lalu dia bilang, “Sekarang setelah kau tahu di dalam sini tak ada orang, dan hanya ada alat listrik, jauhkan tanganmu yang kecil ini dari radio. Jangan coba-coba buka radio ini lagi ya!” Bagaimana Mak tahu kalau aku ingin melihat ke dalam radio? Mak melihat ke mataku. “Willa, janji pada Mak, kau tak akan mengutak-atik radio ini.” Janji? Aduh, aku tak mau janji karena aku masih ingin lihat apa isi radio. “Willa, setuju?” Kenapa Mak harus bilang setuju? Itu kan berarti aku harus setuju dengan permintaan Mak. Dan aku harsu bilang setuju juga. Kalau tidak, Mak pasti akan menggeram. Aku tak suka kalau dia menggeram. Mukanya.... tidak enak dilihat. Percaya padaku.

A-I-U-E-O (serial catatan kemarin)


Dari kami berempat, cuma aku yang belum sekolah. Ida baru mulai tahun ini. Bud juga. Dul sudah mulai sejak aku diajaknya main gundu. Tetapi dari kami berempat, cuma aku yang bisa baca koran.

Mak yang mengajariku membaca. Aku ingat, pada suatu hari, Mak mengambil lembaran kalender yang tak terpakai. Bagian yang bertulisan, ditempelkannya ke dinding. Lalu ia membuat garis-garis, kotak-kotak di kertas itu. Sesudahnya ia menulis sesuatu. Begitu selesai Mak bilang, “Mulai hari ini, kita akan belajar mem¬baca. Kalau rajin, kau bisa membaca buku apa saja. Mau?” Aku tidak mungkin menolak. Aku sangat ingin bisa membaca buku-buku cerita yang dibeli Mak setiap hari Minggu, di toko buku kecil, di samping gereja. Kalau Mak punya waktu, ia akan langsung membacakannya begitu kami tiba di rumah. Tapi kalau ia sedang sibuk, aku harus menunggu. Dan selama menunggu, aku cuma bisa membalik-balik halaman buku. Melihat gambarnya. Menebak seperti apa ceritanya. Dan sekarang Mak bilang aku akan diajari membaca. Aku senang. Sangat.

Hari itu aku mulai dengan membaca tiga baris pertama: a i u e o, ba bi bu be bo, da di du de do. Mak menunjuk tulisan satu-satu, membacanya keras-keras. Aku mengikuti, sama kerasnya. Tak ingat berapa lama aku mengikuti Mak, sampai akhirnya Mak bilang sudah waktunya berhenti. Seharian itu, sampai sore, waktu main bersama Ida, aku terus menyebut a i u e o… ba bi bu be bo… da di du de do. Ida berteriak-teriak. Menyuruhku berhenti. Tidak bisa. Aku suka ba bi bu be bo. Malamnya aku mimpi datang ke sebuah pesta. Badut, pemain sirkus, putri, pangeran... semua ada, semua mengajakku bermain dan bicara: ba bi bu be bo... da di du de do... a i u e o....

Besoknya, begitu Pak berangkat ke kantor, Mak menyuruh aku mandi dan siap-siap belajar membaca. Aku langsung melompat ke kamar mandi. Mbok heran, “Tidak pakai air panas?” Setelah menyisir rambut, Mak menyuruh aku menunjuk tulisan yang ada di kertas kalender itu. Aku mulai lagi. Lalu Mak mengambil sebatang lidi dari ikatan sapu. Dipakainya buat menunjuk tulisannya sendiri. Mak menyuruh aku membaca apa yang ditunjuknya: a ba, I ba, I bu, u bi, e di, a da… Lambat-lambat. Tapi lama-lama makin cepat! Tiba-tiba Mak memelukku. Katanya, “Kamu sudah bisa baca!” Mak menunjuk sekali lagi, melompat dari satu tulisan ke tulisan lain. Suaraku keras terdengar: i bu, u bi, ba bu, dad u, i da, … Aku bisa baca! Aku senang! Hari itu, Ibu mengajari lima baris: fa fi fu fe fo, ga gi gu ge go, ha hi hu he ho, ja ji ju je jo, ka ki ku ke ko. Ditambah pelajaran menulis yang kami pelajari hari sebelumnya. Besoknya sepuluh baris… Dan besoknya lagi, sisanya. Begitu seterusnya. Sampai selesai.

Sejak itu, aku betul-betul bisa membaca buku cerita sendiri. Aku juga bisa membaca papan reklame, nama jalan, dan koran. Tapi tulisan di koran banyak. Aku tidak mengerti. Jadi aku pilih membaca komiknya saja. Setiap hari ada. Dul sering meminta aku membacakan buku pelajarannya. Keras-keras. Ia mendengarkan sambil main layangan. Sebetulnya aku tak begitu mengerti apa yang aku baca dari buku Dul. Kalau aku tanyakan pada Dul, dia pasti bilang, “Itu pelajaran anak kelas 4. Anak yang belum sekolah tidak perlu tahu!” Sombong!

Anak

a shorty-short-story of the day



Dia senang ketika perempuan itu kawin dengan bapaknya.
Berharap ia akan mendengar banyak dongeng dan nyanyian sebelum tidur, seperti cerita teman-teman mainnya.
Dan perempuan itu memang banyak bercerita, tentang dirinya.
Ia juga banyak bernyanyi, tentang keinginannya.
Juga menari, sambil membawa rotan, sapu, sandal,
yang selalu mendarat di badannya.
Hari ini, setelah dongeng dan nyanyian ibunya selesai,
ia memutuskan tidur. Tidak bangun lagi. Sudahlah.

Monday, 2 February 2009

PESTA (serial catatan kemarin)


Farida. Itu suara Farida, Ida. Memanggil-manggil dari luar. Sebelum aku sampai ke pintu, ia telah masuk dan berdiri di samping mesin jahit Mak. Ia meringis, giginya yang hitam-hitam dimakan ulat, kelihatan berbaris, “Ayo ke rumahku!” katanya. Ah ya, tadi pagi, waktu mengantarku ke sekolah, Mak bilang, “Hari ini Mak ke rumah Ibunya Ida. Kamu menyusul saja ke sana.” Dan aku baru ingat pesannya setelah Ida menyusul. Pantas waktu pulang tadi cuma ada Mbok di rumah. “Di rumahmu ada apa?” Kakinya menghentak-hentak tak sabar, “Mak ku masak! Bikin cucur! Ayo!” Cucur? Aduh! Aku harus ke sana. Sekarang juga. Ida langsung menarik tanganku. Aku menurut saja. Ke rumah Ida, makan cucur, tidak bisa dan tidak boleh dilewatkan. Aku suka cucur. Apalagi bikinan ibunya Ida, selalu enak. Tak sabar dia langsung menggandeng tanganku. Kami menyeberang, melewati pagar rumahnya, masuk halaman yang luas tapi tanpa tanaman sebatang pun.

Kami langsung menerobos ke dapur yang terletak di sayap kiri rumah. Semua Ibu-ibu –Mak juga-- dari Krembangan Bhakti 12 ada di ruangan itu. Berkerumun, kemriyek di sekitar kompor, lemari, baskom, talenan bulat yang biasa kami –aku dan Ida—sebagai tempat duduk dan tempat tidur para boneka. Masih ditambah dengan sayur aneka rupa terkumpul dalam keranjang, di sudut ruangan. Daging dalam panci-panci besar. Kelapa yang menunggu giliran untuk diparut, banyak sekali. Entah kapan selesainya. Dapur yang biasanya sangat luas, yang bisa dengan mudah dipakai untuk main sembunyian, tiba-tiba jadi sangat sempit. Aku memandang ke sekeliling dapur. Tak sekilas pun tampak bayangan kue cucur. Ida menarik tanganku, menerobos keramaian dapur, menyusup ke gang sempit yang mengantar kami ke deretan kamar-kamar besar, berpintu kayu jati tebal dan berat. Aku sudah membuka pintu kamar Ida, kamar paling kecil dari semua kamar yang ada ketika dia menarik tanganku kuat-kuat! “Bukan ke situ!” katanya sambil terus berlari ke arah ujung lorong. Dan tiba-tiba berhenti di depan kamar kedua terakhir. “Iki kamare sopo?” Ida tidak menjawab, dia langsung medorong pintu.

Lalu tampaklah sebuah tidur ditutup seprei warna merah muda, mengkilat. Bunga-bunga melati, mawar dan daun asparagus di sematkan jadi satu dengan peniti, di tancapkan pada bagian-bagian tertentu tempat tidur. Empat bantal besar bersandar di kepala tempat tidur. Di atasnya ada kain tulle panjang di biarkan menjuntai ke sisi kanan dan kiri kepala tempat tidur. Di tengahnya ada rangkaian bunga. Belum pernah aku lihat tempat tidur seindah itu. Pasti Aku ingin sekali melompat-lompat di atasnya. Pasti sangat menyenangkan. Selagi aku menimbang-nimbang untuk mengajukan permintaan itu, dari balik pintu lemari, muncul: Mbak Tin. Kakak ketiga Ida. Ia tidak tersenyum, seperti biasanya. Mukanya pucat. Matanya bengkak dan merah. Ia bergerak pelan, duduk di kursi bulat tanpa sandaran, menghadap meja rias yang sudah dihias juga. Penuh bunga.

“Mau apa kalian di sini?” katanya dengan suara yang sangat lembut. Ida, meringis, “Makan kue cucur!” katanya sambil menunjuk setumpuk kue cucur yang ada di meja kecil, di samping kiri meja rias. Di meja itu juga ada piring-piring lain berisi kue lapis, kelepon, jenang… Mbak Tin menghela napas lalu menyorongkan kue itu pada kami. Saat itu aku melihat mata Mbak Tin basah. Ia tak ingin kue cucurnya kami makan! Aku memandang Ida. Dia langsung menyambar piring dan meletakkannya di lantai. Di situ ia duduk, mengambil satu, dan langsung masuk mulutnya. “Ayo! Makan!” katanya dengan mulut penuh cucur. Aku ikut duduk di sampingnya. “Makan!” kata Ida lagi, mengambil cucur kedua. Aku menoleh ke a rah Mbak Tin. Ida mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Mbak Tin mau kawin!” Oh! “Aku boleh lihat nanti?” Ida tertawa mendengar pertanyaanku, “Ya, boleh! Dua hari lagi kawinnya. Mbak Tin, Willa boleh lihat Mbak Tin jadi penganten ya?” katanya. Sesaat itu juga, Mbak Tin menangis. Badannya yang kurus berguncang-guncang. Cucur yang ada di tanganku terlepas. Jatuh ke lantai. Tapi Ida tetap tenang, ia terus mengunyah. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telingaku, “Kalau jadi pengantin memang musti begitu. Nangis.” Ia berbisik. Tangis Mbak Tin makin menjadi. Ida bicara lagi, “Kalau nggak nangis, artinya nggak senang jadi pengantin!” Mbak Tin bangkit dari kursinya, melompat ke tempat tidur. Telungkup di situ. Tangannya memukul-mukul bantal. Kakinya menendang-nendang ke sana ke mari. Rontok sematan bunga yang ada di seprei. Ida tersedak. Matanya membelalak, bingung. Kupungut kue cucur yang jatuh ke lantai. Kami berdua langsung melompat ke luar kamar. Sampai sore kami tak kembali ke kamar Mbak Tin. Tak ingin.

WONG CINO (serial catatan kemarin)


Mbok sedang mencuci di belakang. Mak pergi ke pasar. Aku tidak diajak. Jadi, aku harus main sendiri di rumah. Tapi main apa? Main pasar-pasaran tidak enak kalau cuma sendiri. Tidak ada buku baru. Main ayunan, bosan.

Tiba-tiba dari luar aku dengar suara Ida. Aku melompat, membuka pintu. “Libur!” katanya waktu aku tanya mengapa ia tidak sekolah. Ia membawa bonekanya yang bisa berkedip. “Ayo, main ibu-ibu-an!” ia berlari masuk ke ruang samping, ruang bermain. Bapak Dul. Di sini semua mainanku disimpan (Mak bilang bukan disimpan, tapi berserakan!). Ida menggendong Nining, bonekanya. Aku mencari Melly. Aku panggil-panggil namanya. Berharap dia dengar dan memunculkan kepalanya di antara tumpukan boneka, kereta api, mobil, panci-pancian, sapi, kuda, jerapah, ayam, bebek...
“Kenapa namanya Melly?” kata Ida tiba-tiba.
“Kenapa? Kan nama Melly bagus,” kataku.
“Kayak wong Cino,” kata Ida sambil menarik ujung matanya ke atas. Lalu dia tertawa. Aku ikut tertawa juga. Muka Ida lucu sekali, jadi seperti Cik Kim yang tinggal di belakang rumahnya.
“Kamu kan bukan Cino,” kata Ida lagi, sambil membantuku mencari Melly.
Bukan Cino?
“Mak bilang aku Cino, kok!” kataku. Ida berhenti mencari Melly. Dia melihat aku lalu sambil menunjuk mukaku dia bilang, “Kamu bukan Cino! Kamu ireng. Matamu tidak sipit, tidak begini...” lalu dia menarik lagi ujung matanya. Dan dia tertawa lagi. Aku tertawa juga.
“Tapi, bapakku Cino!” kataku lagi.
“Mak mu bukan Cino,” kata Ida, “Jadi kamu bukan Cino.”
Melly kami temukan di pelukan gorilla. Kami lalu lari ke halaman. Main masak-masakan. Ida bilang, mau bikin bubur merah putih, selametan ganti nama. Hari itu Melly jadi Atik. Karena aku bukan Cino, jadi anakku juga bukan.

Thursday, 29 January 2009

DUL (serial catatan kemarin)


Mbok bilang, bapaknya Dul dan Ida bersaudara. Mbok juga bilang, waktu Dul lahir, ibunya langsung meninggal. “Dulu, Pak Karno tinggal di Sidoarjo. Tetapi sejak istrinya meninggal, ia pindah ke sini, dekat rumah Ida. Supaya ibunya Ida bisa menjaga Dul dan Ahmad, abangnya,” itu cerita dari Mak.

Dul bisa main apa saja. Tapi dia paling tidak suka diajak main sembunyian. Katanya itu bukan permainan. Ini yang Dul suka:

1. main kelereng
Dul selalu menang setiap kali main. Kalau aku, Ida dan Bud main lalu Dul datang, kami lebih baik berhenti saja. Daripada semua kelereng pindah ke kantong Dul. Setiap kali main, Dul cuma bawa satu gundu. Tapi pulangnya, kantongnya pasti penuh, sampai celananya harus diikat, supaya tidak melorot. Tidak kuat menahan gundu yang banyak di kantong itu. Paling enak, kalau main beregu. Aku dan Dul paling sering main bersama, melawan Yono dan Tri. Waktu mulai main, Yono pasti omong yang tidak-tidak. Dia selalu bilang pasti menang, pasti bisa membawa pulang semua gundu kami. Tetapi setengah main, gundunya sudah berkurang banyak. Dan kalau hampir habis, dia teriak-teriak, bilang kami semua curang.

Pernah satu kali, waktu kelerengnya betul-betul habis, Yono mengamuk. Semua disepaknya. Juga kelereng kami hingga tersebar ke mana-mana. Dul marah sekali. Dia merenggut leher baju Yono. Lalu dengan tangan yang lain muka Yono ditinjunya. Yang dipukul mengaduh-aduh. Menangis, berkaok-kaok. Memanggil-manggil bapaknya. Ribut sekali! Sebentar saja, bapaknya Warno, pak Wardiman, ke luar. Aku pikir, Dul pasti akan dihajarnya. Tetapi semakin dekat, semakin laju jalan pak Wardiman. Dia lewat begitu saja. Menoleh pun tidak. Yono, melihat bapaknya tidak berhenti menolongnya, langsung diam. Dul melepaskan cengkramannya. Yono jatuh. Dul menyuruhnya membereskan kembali susunan kelereng di pasir. Yono menurut.

2. main layangan
Kalau musim layangan datang, Dul pasti ada di pinggir rel kereta. Main. Layangan Dul macam-macam. Ada yang besar, warna-warni dan berbuntut panjang. Bentuknya macam-macam. Ada kupu-kupu, ikan, ular naga. Aku paling suka layangannya yang berbentuk orang: tangannya berkacak pinggang, roknya merah, rambutnya mencuat ke luar, bibirnya merah, matanya besar. Dul bilang, layangan yang aku suka itu paling sulit diterbangkan karena terlalu besar dan berat. Dia sendiri suka yang ular naga. Mak juga. Kalau Dul sudah menaikkan layangannya yang berbuntut panjang itu, Mak pasti keluar, menengok. Mak senang melihat ekornya yang meliuk-liuk ke sana ke mari. Jangan-jangan Mak ingin main layangan bersama Dul. Dulu, waktu kecil, Mak sangat pandai main layangan. Main kelereng juga.

Tetapi semua layangan yang bagus itu jarang sekali dimainkan. Dul lebih suka menaikkan layangannya yang kecil, yang biasa. Dengan layangan kecil ini, Dul selalu menang setiap kali beradu dengan layangan lain. Kata Mak, itu karena benang yang dipakai sangat bagus. Dul bilang, itu buatan bapaknya. Pakai pecahan botol dan gelas. Diuleg. Mak bilang, selain pakai gelas uleg, ada lagi obat yang ditambahkan. Mak lupa apa namanya.

Aku dan Ida bergantian bertugas memegangi layangan sebelum ditarik dan diterbangkan. Kalau sudah naik, aku bertugas memegang kaleng yang diubet benang gelasan. Berdiri di dekatnya, mendengarkan perintah yang diberikan: Ulur! Gulung! Tariiiiiik! Layangan Dul terbang tinggi, menyambar-nyambar ke sana ke mari, mengejar layangan lain. Begitu dekat, layangannya memotong jalur terbang lawan dan... tess! Layangan lawan putus. Kalau sudah begitu, aku dan Dul lompat-lompat. Dul selalu membiarkan layangan lawan yang putus. “Buat apa mengejar layangan jelek seperti itu. Aku bisa buat lebih bagus,” katanya. Ya, Dul tidak pernah beli layangan. Dia bisa bikin sendiri. Pakai lidi sapu, pakai kertas tipis. Setelah selesai di tempel dengan nasi, Dul menghias layangannya dengan cat berwarna. Seeet, seeet! Biasanya dia menggambar tengkorak atau tumpukan lingkaran yang disusun seperti sasaran tembak.

3. mengejar kereta api
Dul suka mengejar kereta api. Setiap sore, pasti dia lakukan. Kalau sedang main layangan, ia akan menyuruh siapa saja yang lewat didekatnya untuk memegangi layangannya sebentar. Dia akan lari ke ujung gang, menunggu kereta lewat yang memang jalannya melambat kalau sampai di situ, lalu dia mulai lari, mengiringi... mengejar dan hop! Melompat. Biasanya Dul mengincar bagian sambungan kereta api karena ada pegangannya.

Aku tidak pernah kebagian memegangi layangan Dul kalau dia mengejar kereta api. Bukan tidak bisa, tetapi aku ikut lari bersama Dul, meski selalu ketinggalan. Begitu dia ada di atas kereta, Dul akan tertawa-tawa, menari-nari dan melambai padaku. Dia juga berteriak-teriak, memanggil siapa saja yang lewat dan tampak oleh matanya. Oiiii, Lik! Lik! Aku iri pada Dul.

Suatu hari, waktu membantunya memegangi benang layangan, di atap rumahnya, aku bilang pada Dul, kalau aku ingin ikut dia, berlari dan menangkap kereta. Dia cuma berbunyi, “Hmm...” Aku ulangi permintaanku, “Boleh ya, Dul?” Dia bilang, “Hmm,” lagi. Artinya, boleh. Pasti. Waktu kami sudah selesai main, menggulung benang dan membereskan layangan, dia menarik tanganku, “Kamu jangan ikut naik kereta. Mak mu nanti marah sama aku. Lagi pula, mana ada anak perempuan yang naik kereta begitu,” katanya. Aku hampir menangis saat itu juga. Dul tidak mengijinkan aku menikmati permainannya.

Sampai malam, aku masih memikirkan omongan Dul. Aku tidak berminat makan, padahal di meja ada ikan bandeng dengan mata yang masih lengkap. Mak bertanya, mengapa. Aku bilang, aku kesal sama Dul karena dia tak mau mengajak aku naik kereta bersamanya. Tiba-tiba tangan Mak mencengkeram lenganku, “Willa, dengar! Jangan pernah mencoba-coba ikut naik kereta api bersama Dul. Itu berbahaya, tahu?” Aduh! Aduh! “Dul betul, Mak akan marah. Dan Mak akan sangat-sangat-sangaaat marah kalau kamu sampai mencoba melakukannya! Dengar, Willa?” Aku cepat-cepat mengangguk. Aduh! Aduh! Harusnya aku tak ceritakan semua ini pada Mak!

Wednesday, 28 January 2009

GUS SALIM (serial catatan kemarin)


Di rumah Farida ada ruang besar dan lebar. Letaknya di sisi kiri (kalau aku menghadap rumahnya).
Setiap pagi, ruangan itu selalu penuh orang. Duduk menunggu giliran bisa bertemu dengan Salim. Farida bilang, setiap pagi, Salim –yang sering dipanggil Gus Salim—sibuk dengan orang yang mengantri itu. Mereka semua sakit dan minta disembuhkan.

“Kenapa tidak ke dokter saja?” aku pernah tanya Farida. Dia bilang, orang-orang itu tidak punya uang untuk bayar dokter dan rumah sakit. Tapi kadang-kadang mereka bawa makanan, atau kalau ada uang sedikit, mereka masukkan ke dalam kotak kayu yang ada di depan pintu ruang besar itu. Farida bilang, setiap hari Jum’at kotak itu dibuka dan isinya dimasukkan ke dalam kantong kain yang dibawa ke mesjid. Isinya dituangkan ke dalam kotak besar yang ada di pintu depan mesjid. Mbok bilang, Gus Salim orang sakti. Kalau ketemu Gus Salim, jangan lihat matanya. Nanti bisa sakit mata. Waktu aku tanya Farida, dia tertawa keras-keras. Katanya, Mbok bohong.

Aku percaya Ida.

Aku sudah ketemu Gus Salim. Sudah lihat matanya dan aku tidak sakit mata.

FARIDA (serial catatan kemarin)


Sepanjang yang aku ingat, Farida sudah tinggal di seberang rumah kami.
Rumahnya besar. Satu rumah Farida sama dengan empat rumah dibariskan jadi satu.
Dia punya banyak kakak. Ada Ahmadi, Salim, Martini, Maryati, Suryani, Fadli , Rahman. Tak punya adik. Ibunya selalu memakai kain dan selendang yang disampirkan di kepala. Bapaknya selalu memakai sarung, berikat pinggang lebar. Kopiah tak pernah lupa, tetapi dipakai melebar di kepala. Bajunya selalu kemeja hitam atau kaus garis-garis. Bapaknya Farida tidak pernah tertawa. Alisnya selalu bergabung jadi satu. Mukanya selalu seperti orang marah. Farida sendiri bilang bapaknya selalu galak. Suka marah, suka teriak-teriak, suka memukul anak yang nakal, begitu kata Farida. Itu sebabnya, biar rumah Farida besar, ada halaman yang luas, aku lebih suka main di rumah sendiri. Farida juga: lebih suka main di rumahku.

Farida sudah sekolah. Setiap hari, dia berangkat bersama Fadli dan Rahman. Naik sepeda, Farida selalu dibonceng Fadli. Rahman punya sepeda sendiri, tapi tak ada boncengannya. Bertiga mereka sekolah di sekolah negeri dekat rumah sakit kelamin. Agak jauh dari rumah.

Setiap pulang sekolah, Farida selalu mampir ke rumahku. Mak selalu memberinya minum. Kadang-kadang, semangka, kueh mangkok, atau getuk. Kami makan bersama, sebelum ia kembali ke rumahnya. Farida bisa ke mana saja. Main di rumah siapa saja. Karena ia tak pernah dicari oleh Ibunya. Pasti senang sekali jadi Farida.

Farida tidak bisa bilang ‘r’. Kalau Dul memanggilnya, “Falidaaaaa.... Falidaaa!” ia selalu mengamuk, mengumpat, lalu mengejar Dul. Berniat memukulnya, tapi tidak pernah berhasil.

Farida lebih suka dipanggil Ida saja. Aku memanggilnya begitu.

Seperti Mak (serial catatan kemarin)


Kalau aku besar nanti, aku ingin bisa setinggi Pak. Jadi kalau harus ambil mainan di rak paling tinggi, tidak perlu naik kursi. Kalau mau pasang gambar, tidak harus pakai tangga. Tapi aku mau rambutku bisa seperti Mak. Berombak, berbelok-belok. Tidak seperti rambut Pak yang lurus dan kaku. Waktu aku bilang ini pada Mbok, dia tertawa terbahak-bahak. Katanya, kalau sudah besar nanti aku akan berkulit putih, bermata sipit dan rambutku tumbuh kaku-lurus. Aku tak suka dengan omongan Mbok. Aku bilang, aku anak Mak. Jadi aku pasti seperti Mak: kulit coklat, rambut berombak, belok-belok. Tapi Mbok bilang, dari jaman Februari (Mbok selalu bilang ‘jaman Februari’ untuk semua yang serba jaman dahulu kala), semua anak perempuan pasti akan jadi seperti bapaknya. Yang bisa mirip Ibu itu anak laki-laki.

“Kalau aku jadi anak laki-laki, aku bisa bisa seperti Mak?”
“Ya, bisa,” kata Mbok.
“Kalau begitu aku mau jadi anak laki-laki saja,” kataku.
“Bagaimana? Kamu anak perempuan. Sampai kapan juga anak perempuan!”
“Nanti aku pakai celana terus.”
“Tidak bisa, Noni! Kamu perempuan. Perempuan!”
“Tapi aku mau seperti Mak!” aku mulai kesal.
“Ora iso! Ora iso! Wedhok, yo wedhok!” kata Mbok. Lalu ia bergerak ke dapur. Aku langsung berteriak, dan... menangis keras-keras. Mbok langsung berbalik, mendekat, dan menyuruhku diam. Aku tidak mau diam. Aku sedang kesal! Kesal sekali!

Aku menangis lama sekali. Waktu Mak pulang dari pasar, aku masih menangis. Keras. Kaki, tangan, baju, muka: kotor. Aku menangis sambil berguling-guling. Mak langsung meletakkan belanjaannya. Ia mendekat, jongkok di depanku, “Ada apa, Willa?”
“Mbooooooooook!” kataku di tengah tangis yang makin keras. Mak bangun dan memanggil Mbok yang sudah sejak tadi berdiri di dekat kami.
“Kamu apakan dia?” tanya Mak sambil menunjuk aku. Mbok langsung duduk bersimpuh, dan dia ceritakan apa yang telah terjadi. Mak bertanya-tanya, Mbok menjawab-jawab. Mak lalu berhenti bertanya-tanya. Mbok berhenti menjawab. Aku masih menangis.

Mak lalu mendekat. Ia memeluk bahuku, “Willa, berhenti menangis. Dengar, kamu anak Mak dan Bapak. Nanti kamu tumbuh tinggi seperti Pak, dan rambutmu akan bergelombang seperti Mak.”
“Kata Mbok...”
“Mbok tidak mengerti. Sudah, diamlah,” kata Mak. Mbok sudah berdiri di pintu, menunggu Mak dan aku menuju kamar. “Maaf ya Non,” katanya. Aku mengangguk-angguk. Tangisku sudah selesai. Aku mulai menyanyi-nyanyi. Mak menghela napas. Panjang dan dalam. Menemani Mak menuju dapur, dari tas belanja dari plastik yang berlubang-lubang itu, ada sawo menyembul. Itu pasti untukku.