Saturday, 10 July 2010

Aku: Laki-laki


Dia cantik. Sangat. Entah mengapa baru sekarang aku bisa melihat keindahan perempuan yang satu ini. Ke mana saja aku selama ini?  Jangan tanya. Aku tidak tahu. Sumpah.

Setiap pagi, begitu  tiba di kampus, aku selalu mencari kelebatnya. Aku menunggu ia lewat. Menyeberangi koridor demi koridor, melangkah dengan kaki seperti menari di udara. Cepat, tanpa suara. Begitu cepatnya sehingga aku sering sulit menangkap wajahnya yang sering dibiarkan tersembunyi di balik helaian rambutnya yang panjang sebahu. Rambut, ya rambut itu soal lain lagi. Kampus kami yang terbuka di sana  sini, membiarkan angin menerjang dengan bebas. Ia, ya ya perempuan cantik itu, tak pernah pusing dengan ulah angin yang menimpa rambutnya. Setiap helainya dibiarkan  bebas bermain. Tertiup ke sana ke mari. Tak pernah ia merasa perlu merapikan apalagi menata ulang. Semua ia biarkan begitu saja. Dan tetap saja: ia cantik.

Perkenalan kami berlangsung begitu saja. Tak terencana. Seorang teman, tanpa niat mengenalkannya padaku. Kebetulan saat itu, teman ini sedang makan di kantin bersama makhluk cantik itu. Karena aku tiba-tiba muncul, teman ini merasa perlu  berlaku seperti tuan rumah. Ia tersenyum dan menjabat tanganku. Erat. Kuat. Aku senang jabatan tangan seperti itu. Tidak lemas dan tidak basah karena keringat. Ia tidak banyak bicara. Tetapi komentar-komentar pendek yang kadang ia lontarkan atas cerita temanku, mengejutkan. Ia tidak seperti teman-temannya yang lain.  Ia banyak membaca. Ia cerdas. Ia –tanpa berusaha mati-matian dan ingin kelihatan pintar—jenius. Aku minta nomor hp-nya. Ia berikan begitu saja, tanpa meminta balik nomorku. Tak juga meminta aku pasti  meneleponnya suatu hari nanti. Ia tidak peduli. Kami berpisah ketika ia tiba-tiba melihat jam tangan, dan menjerit kecil. Ada pesta penting di rumah: Ibunya berulang tahun. Ia melompat dari bangku kantin. Berlari. Dan menghilang. Begitu saja. Tak menoleh lagi ke arahku yang detik itu juga berharap bisa menempel di bahunya. Ikut ke mana ia pergi. Ke mana saja. Bersama. 
Terlalu.

Dua hari kemudian, aku –dengan segala upaya—berhasil berpapasan dengannya. Ia masih ingat namaku! Aku berteriak senang, dalam hati tentu. Aku bilang, hebat dia masih mengenaliku. Dia tertawa. Katanya, siapa yang tak kenal aku: mahasiswa yang sok-sokan jadi bintang sinetron   dan sekarang  ngotot ingin  jadi penyanyi pula.  Tak tahu harus berkata apa, aku cuma bisa tertawa. Panjang. Menjengkelkan sekali, kedengarannya. Karena terasa sangat dipaksakan. Dia hanya tersenyum. Mungkin tak sabar menunggu tawaku selesai, ia menyentuh tanganku. Katanya dia harus masuk kelas. Lima menit lagi kuliah umum di mulai. Aku hanya mengangguk-angguk, seperti orang tolol. Ia berlalu.

Malamnya, saat menunggu giliran shooting, aku duduk sendiri di sudut. Tiba-tiba aku ingat dahinya yang selalu berkerut setiap kali mendengar orang bicara. Aku ingat sentuhannya pada tanganku. Aku ingat tawanya yang hanya sekilas itu. Aku ingat warna rambutnya. Aku ingat bajunya yang hampir selalu berwarna putih. Aku ingat  semua yang ada padanya dan semua ketololan yang aku lakukan. Malam itu, sutradara tampak kesal. Aku tidak bisa konsentrasi. Aku lupa semua dialog. Terlalu. Sampai di rumah, hari sudah berganti tanggal. Mata terus terbuka lebar. Aku tak bisa tidur. Terlalu!

Jangan kuliahi aku macam-macam. Aku tahu apa yang terjadi saat ini: aku jatuh cinta. Aku ,yang selama ini lebih sering dijatuhi cinta banyak perempuan cantik dan lucu-lucu, kini benar-benar tak berdaya menghadapi perempuan yang satu itu. Temanku bilang, belakangan ini aku jadi tolol. Memang! Sutradara bilang aku sekarang tidak asyik lagi. Betul! Ibuku bilang, aku mirip ayam sakit. Tepat! Mereka bilang, ini tak boleh berlangsung lama. Aku setuju! Harus ada penyelesaiannya. Aku setuju juga! Tapi bagaimana? Bicara itu gampang. Tapi kenyataannya? Oh, sulit! Sulit sekali!

Tiga hari lewat tanpa aku sempat ke kampus. Ada jadwal shooting di luar kota.   Betapa aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin peluk dia. Mencium bibirnya, bermain dengan rambutnya. Tapi itu mustahil. Setidaknya untuk saat ini. Kepalaku, sudah tiga hari ini sakit tak tertahan. Dari pagi hingga sore aku marah-marah tak henti. Crew berlarian, menghindar, setiap kali aku lewat.  Wajahku terasa panas. Kepala seakan siap meletus: aku ingin pulang. Kubuka hp, kucari namanya, dan kutekan tanda bicara. Aku rindu padanya. Tepat pada dering ketiga, ia menjawab. Suaranya bebas emosi. Biasa saja. Sementara aku sesak napas. Hidungku seakan tak sanggup menghirup udara yang cukup buat paru-paruku. Aku bertanya, sedang apa dia. Baca buku, katanya. Ia bertanya apa yang kulakukan saat itu. Aku, tergagap. Diteruskan dengan tawa geli yang tak sedap didengar siapa pun! Dia tidak ikut tertawa! Tenggorokanku kering, mulutku pahit. Lama kami terdiam. Dan aku panik, ketika ia bilang kalau tak ada bahan yang dibicarakan, mungkin sebaiknya aku menutup telepon. Buru-buru aku bilang tiba-tiba saja teringat padanya dan ingin mengobrol. Dia tertawa kecil. Katanya, itu juga yang ia rasakan saat itu. Aku melompat tinggi. Hp-ku lepas, terjatuh, membentur batu. Hubungan terputus. Tolol!

Malamnya aku pulang. Pagi-pagi aku sudah duduk di ujung koridor. Menunggunya. Setelah kuliah jam kedua lewat, dia baru tiba. Ia melambaikan tangan. Aku berlari menghampirinya. Aku minta maaf pembicaraan kemarin berakhir dengan kampungan. Dia tertawa. Tangannya menepuk-nepuk bahuku. Aku merasa tubuhku seringan kapas. Melayang. Tinggi. Tak ingin turun lagi. Aku bilang ingin mengajaknya makan di kantin. Dia setuju. Tetapi dengan syarat tidak terlalu sore. Ada les piano, katanya. Aku cepat-cepat mengiyakan. Sampai waktu yang dijanjikan tiba, aku tetap duduk di ujung koridor. Tak bisa bergerak. Atau tepatnya tak ingin. Biar.

Kami cuma minum kopi susu. Tidak makan. Ia bertanya tentang kesibukanku di luar kota. Aku bercerita dengan antusias. Dia bertanya macam-macam. Dan aku tak ingin berhenti bicara. Aku ingin ia terpesona. Terkadang ia tertawa terkekeh mendengar keajaiban dunia sinetron yang aku jalani. Katanya, kalau pun dapat tawaran bagus, ia akan memilih jadi manusia biasa saja. Aku setuju. Setuju sekali. Ia –lagi-lagi—terlompat ketika melirik jam tangannya. Terlambat, katanya. Aku buru-buru menawarkan diri mengantarnya pergi. Ia sempat berpikir sebentar sebelum mengangguk setuju.

Di mobil, ia mengacak-acak kotak cd-ku. Ia senang menemukan cd penyanyi kesukaannya di situ. Matanya berbinar-binar. Gembira. Jantungku siap meledak karena gembira juga: cd kesukaannya adalah kesukaanku juga. Aku bertanya soal kesibukannya bermain musik ini. Katanya, ini hasil paksaan ibunya. Dulu ia merasa sengsara harus les, tak bisa tidur siang. Tetapi sekarang, justru kegiatan ini memberinya kesenangan. Dan uang! Ia mengajar piano untuk anak-anak.  Ia suka dan cinta pada piano. Aku bilang, aku juga. Maksudku, aku suka dan cinta padanya. 

Dua minggu, tiga minggu, sebulan berlalu. Aku semakin sering bersamanya. Aku rajin mengantarnya ke mana saja. Terkadang aku mengajaknya makan malam. Nonton film, konser, apa saja! Seorang teman wartawan yang pernah bertemu dengan kami di sebuah café bertanya, apakah dia kekasihku yang baru. Aku cuma tersenyum. Dia juga begitu. Sampai hari ini kami belum bicara apa pun yang menyangkut hati. Tak tahu apa yang ada di kepalanya, tapi di kepalaku, aku sibuk menyusun strategi. Aku harus membuat pernyataan yang menyangkut perasaanku padanya. Tak peduli reaksi macam apa yang akan ia lontarkan nanti. Dan itu harus segera terjadi. Aku tak sanggup menahan lebih lama.

Dua hari aku berdiri di depan kaca, menggerakkan tangan, menggoyang kepala, menaikkan alis, memperlebar senyum… berlatih menyampaikan isi hati. Dan semakin sering kulakukan, semakin payah dan buruk kelihatannya. Sama sekali tidak meyakinkan. Aku mencoba mengingat-ingat  dialog berisi pernyataan cinta yang pernah kuucapkan di beberapa sinetron. Ajaib sekali, semua terasa menggelikan. Tidak bisa dipercaya. Tidak menarik. Tidak pantas didengar.  Aku sendiri ingin muntah saat mendengarnya. Sungguh keterlaluan. Kampungan sekali! Mengapa ketika perasaan begitu menggebu dan ingin segalanya berlangsung mulus, justru kekacauan yang terjadi? Mengapa? Aku sesak napas. Ampun.

Malam, sebelum aku bertemu dengannya pagi hari nanti, aku kembali tak bisa tidur. Kupandangi langit-langit kamarku. Mencari jawaban yang sudah pasti tak ada di situ. Mau tidak mau, besok aku harus membuat pernyataan. Harus! Kalimat yang berhasil kurangkai –meski masih terdengar kurang intelek—sudah kuhafal luar kepala. Berharap esok dapat ilham yang lebih baik untuk disampaikan.

Dan saat itu tiba. Di ruang tamunya, sofa yang kududuki seakan siap menelanku bulat-bulat. Dia? Sedang bagus cuaca hatinya. Ia sibuk membahas buku yang baru selesai dibacanya. Seorang perempuan menulis tentang ibunya, begitu katanya. Tak sebersit pun tampak ia memahami maksud kedatanganku. Aku memaksakan diri tersenyum lebar. Keringat mulai menetes di punggung. Tenggorokan terus saja terasa kering, padahal aku sudah menelan ludah berkali-kali. Aku ingin menjerit. Protes keras! Menyumpah-nyumpah. Mengapa menyatakan cinta harus masuk dalam tugas pria? Mengapa pria yang harus melakukannya? Mengapa seluruh dunia percaya bahwa buat pria ini soal kecil? Tak masalah? Ide siapa itu? Ah!

Tiba-tiba saja, suaraku melompat ke luar. Aku dengar suara keluar dari mulutku. Bunyinya begini, “Bolehkah aku jadi pacarmu?” Tanganku gemetar, memeluk bantal. Aku --laki-laki  dengan sejuta penggemar perempuan  yang setiap saat rela menyatakan cinta padaku-- mengeluarkan keringat dingin di sela-sela jari kaki  saat menyatakan cinta pada seorang perempuan.

Sedetik, dua detik, ia masih juga bicara soal buku yang entah berjudul apa. Aku sesak napas. Pada detik ke lima, tiba-tiba ia menoleh. Menatapku dengan dahi berkerut. Dengan mata yang setengah dipicingkan, bibinya terbuka.  Jantungku berdetak kian kencang. Lalu kudengar suaranya, ringan menggelitik telingaku, “Apa katamu?” Dia tak mendengar lompatan suaraku tadi! Aku ingin pingsan saja. Repot sekali jadi laki-laki!

Spice, Juli 2004
 

Saturday, 29 May 2010

MENANTU

Desember 1993

"Jadi kamu mau dikawini si Jawa itu?"
"Ya."
"Aduh, hitamnya dia."
"Tidak apa-apa."
"Nanti anakmu jadi hitam kelam."
"Tidak apa-apa."
"Adatnya pasti beda lagi dari keluarga kita."
"Pasti."
"Sebetulnya aku lebih senang kalau kamu kawin sama orang sebangsa papamu."
"Maksud Mama, Cina?"
"Ya, pintar-pintar mereka itu."
"Tidak ada yang nyangkut."
"Tidak ada atau memang kamu yang tidak mau mencari? Coba itu anaknya teman Papa yang kemarin ke rumah. Pintar dia. Lulusan luar negeri. Barang bagus itu."
"Aku tidak suka."
"Apanya?"
"Semuanya! rambutnya kaku. Mukanya berminyak. Kulitnya terlalu putih, seperti perut cicak."
"Ah, itu kan cuma soal rupa!"
"Kalau diajak bicara, pasti yang dibahas bisnis terus. Lainnya, buta."
"Bodoh! Justru itu sudah lebih dari cukup! Pintar cari uang. Bisa kasih makan kamu dan anakn-anak nanti. Orang tuanya juga baik."
"Terlalu Cina."
"Lalu apa salahnya?"
"Justru itu salah terbesarnya, Seperti keluarga Papa."
"Maksud kamu?"
"Ya, begitu itu... Orang seperti dia merasa kita bisa jadi kenalan tapi tidak pantas jadi teman dekat. Apalagi jadi istri! Cari perkara saja."
"Kamu mengada-ada! Papamu tidak begitu!"
"Ini bukan soal Papa, Ma. Ini soal anaknya teman Papa itu."
"Terlalu berprasangka, kami."
"Tidak. Ini betulan. Saya pernah dengar ibunya ingin cari menantu yang sebangsa. Lebih baik, katanya."
"Ah..."
"Mereka sejenis keluarga Papa, Ma."
"Apa maksud kamu?"
"Ya, begitu itu... Masak Mama lupa bagaimana kakak perempuan Papa memperlakukan kita? Setiap kali kita datang ke rumahnya, dia tak pernah mengajak Mama bicara. Lalu anak-anaknya tidak pernah mau mengajak aku dan adik-adik bermain. Lalu ingat kaka laki-laki Papa? apa pernah dia mengundang kita ke rumahnya? Lalu sepupu Papa, yang selalu bicara pakai bahasa Hokian setiap kali ada kita di sekitarnya?
"Itu cuma kebetulan saja."
"Sudahlah, Ma... Apa ma lupa juga waaktu kita ketemua mereka semua di Pasar Baru? Mereka pura-pura tidak lihat. Dan waktu kita memaksa diri, mendekat dan menegur, tidak ada satu pun yang tersenyum. Tangan kita melayang di udara karena tak seorang pun mau bersalaman."
"..."
"Ma, saya tidak mau punya urusan apa pun dengan Cina-Cina itu. Bosan dibilang anak campuran, tidak murni. Memangnya bensin?"
"Kamu menyalahkan Mama kawin dengan Cina? Menyesal Papamu Cina?"
"Pernah. Tapi... sebenarnya lucu jadi anak campuran."
"Lucu?"
"Jaman SD dulu, teman sekelas Cina semua. Waktu ditanya orang apa, saya jawab, Cina. Mereka tidak percaya: Cina kok hitam. Waktu lihat kalian berdua datang ke sekolah ambil raport, mereka bilang aku pribumi. Sejak itu, mereka berhenti mengajak bermain. Di SMP, yang tak ada murid Cina-nya, ditanya lagi orang apa. Saya bilang orang Timor. Mereka juga tidak percaya. Ambon kok sipit. Waktu mereka lihat mereka datang lagi, saya dipanggil Cina. Tak pernah diajak bicara lagi."
"Kenapa tidak bilang? Itu rasialis! Saya bisa lapor Kepala Sekolah!"
"Ah, kalau waktu itu cerita dan ketahuan, hidup akan lebih susah lagi. Tidak penting. Yang harus kita lalulkan adalah mulai membahas urusan begini bersama Papa. Lalu kita serang kakak dan adik-adiknya itu."
"Jadi itu alasan kamu tidak mau kawin dengan Cina."
"Tidak juga. Saya mau kawin dengan si Jawa ini karena dia tidak pernah membahas kita orang apa. Dia terima saya apa adanya. Keluarga juga. Itu saja, Ma."
"Kamu menyesal lahir sebagai anak campur."
"Bukan itu."
"Saya cuma ingin hidup yang lain dari yang Mama jalani."
"Sayang, kawin dengan siapa pun, konsekuensinya sama saja."
"Yaitu?"
"Suka tidak suka, kau kawinin juga keluarganya."
"Ya, itu saya tahu."
"Baguslah."
"Jadi kamu siap kawin dengan si Jawa hita itu?"
"Ya."
"..."

April, 1996
"Adikmu mau kawin."
"Dengan siapa?"
"Siapa lagi? Anak Bandung itu."
"Oh, dia. Baguslah."
"Kamu setuju?"
"Ya, berarti tercapai impian Mama punya menantu orang Cina."
"Jangan menyindir."
"Siapa yang menyindir? Ini tulus, Ma!"
"Sejak kawin dengan si Jawa itu, kamu jadi pintar bicara."
"Ah, ini tidak ada hubungannya dengan dia. Saya hanya ingat obrolan kita waktu saya mau kawin dulu."
"Yang mana?"
"Mama lebih suka saya dapat Cina ketimbang si Jawa hitam."
"Oh, itu."
"Ya, itu."
"..."
"Kenapa? Mama tidak suka?"
"Pacar adikmu itu anak baik, tapi..."
"Tapi apa?
"Orang tuanya..."
"Kenapa?"
"Sombobg sekali. Mereka tidak mau datang ke mari. Apa mereka lupa kalau anak mereka itu laki-laki? Tidak ad dalam sejarah keluarga kita, pihak perempuan datang lebih dulu ke pihak laki-laki. Apa mereka tidak paham soal itu?"
"..."
"Kenapa kamu diam? Kamu setuju dengan mereka?"
"Tidak. Tetapi saya yakin, mereka punya alasan untuk tidak datang ke mari. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin sibuk."
"Tidak mungkin. Mereka itu sepasang pedagang yang bisa keluyuran ke mana saja, kapan saja. Mustahil dan keterlaluan kalau sampai tak sempat mampir ke sini untuk kenalan."
"..."
"Mama tidak suka kamu diam begitu."
"Saya berpikir."
"Ini bukan waktunya berpikir. Ini waktu untuk merasakan. Mama khawatir..."
"Apa?"
"Orang tuanya kurang setuju anaknya memilih adikmu."
"Ah, mereka sudah kenal dia lebih dari emat tahun. Kalau tidak suka harusnya dari dulu-dulu. Bukan sekarang, waktu dua burung celepuk itu sudah mau kawin."
"Itulah!"
"Itulah apa, Ma? Ada yang saya tidak tahu?
"Menurutadikmu, sikap mereka berubah sejak anaknya bilang mau kawin."
"Berubah bagaimana?"
"Mereka jadi tidak ramah lagi pada adikmu."
"Hm..."
"Hmm, hmmm, apa maksudmu?"
"Mungkin mereka pikir anaknya cuma main-main saja, sambi berharap suatu hari nanti hubungan itu akan selesai. Lalu anaknya akan kawin dengan perempuan lain."
"Artinya?"
"Saya tidak mau bilang."
"Apa?"
"Saya yakin, Mama tahu alasannya."
"..."
"Ya, saya tahu mama tahu."
"Dasar..."
"Mama: jangan diteruskan! Sudah!"


November 1999
"Halo, kamu ada di mana?"
"Di rumah."
"Adikmu akan ke sana sebentar lagi."
"Oke."
"Mungkin mengingap."
"Boleh."
"Mungkin sampai minggu depan."
"Tetap boleh. Tapi kenapa?"
"Biar dia cerita sendiri padamu."
"Ah, sudahlah. Ada apa ini?"
"Adikmu ribut dengan mertuanya."
"Oh, kalau sampai mengungsi, berarti ribut skala besar. Soal apa?"
"Mertuanya ingin cepat punya cucu. Tapi adikmu belum ingin."
"Taaai bukan berati tidak mau, kan? Apalah artinya menunggu setahun lagi."
"Buat mertua adikmu, tahun depan itu waktu yang bagus untuk melahirkan."
"Kenapa?"
"Tahun naga emas. Tahun bagus untuk eklahiran. Apalagi kalau bayi laki-laki."
"Astaga, hanya itu masalahnya?"
"Hanya itu? Justru itu yang buat mereka ribut setiap hari. Dan pagi ini, terjadi lagi. Adikmu sudah tidak tahan. Dia putuskan untuk keluar dari rumah mertuanya. Lakukan sesuatu untuk adikmu!"
"Ah, dia sudah tahu ap ayang harus dilakukan."
"Apa?"
"Nurut sama mertua. Gampang."
"Dia tidak mau! Tidak bisa!"
"Bodoh, dia harus mau, Ma!"
"Kamu ini sembrangan sekali kalau bicara. Bayangkan kalau kamu jadi dia!"
"Saya akan nurut."
"Kamu bicara begitu karena tidak kawin sama anak itu."
"Waktu mau kawin sama Cina Bandung itu dia sudah harus tahu bakal seperti apa hidupnya. Kalau pusingnya baru sekarang, salah besar. Mama sendiri yang bilnag, kawin dengan siap asaja konsekuensinya sama."
"..."
"Ma..."
"Dasar...."
"Mama, sudah!"

(pernah dimuat di kumpulan cerita CHINA MOON, EKI Press 2003)

Sunday, 16 May 2010

anak ibu

1978
“Berapa?”
“Lima setengah.”
”Lima?”
“Lima setengah, Bu.”
“Lima setengah ya lima!”
“Tapi bisa jadi enam, Bu.”
“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!”
“…”
“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!
“…”
“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan, sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!”
“…”
“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”
“…”


1983
“Aku mau masuk bahasa, Bu.”
“Bahasa? Bahasa apa?”
“Jurusan Bahasa.”
“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”
“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”
“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”
“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”
“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”
“Tapi, Bu…”
“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”
“Tapi …”
“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus. Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”
“Bu, tapi …”
“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas.Terlalu banyak main, mengobrol tak berguna di telepon!”
“…”
“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu. Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?
“…”


1994
“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”
“Puji syukur!”
“Ibu jadi penasehatnya, ya?”
“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”
“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”
“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”
“Kami tidak mau di rumah, Bu.”
“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”
“Tidak juga.”
“Di mana? Di mana?”
“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”
“Tobat!”
“Kenapa, Bu?”
“Jadi bukan klinik spesialis?”
“Klinik spesialis juga.”
“Tapi di…”
“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”
“Tobat! Tobat!”
“Ibu tidak setuju?”
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?”
“Kaya?”
“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”
“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”
“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”
“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang…”
“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah.Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.”
“…”
“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka klinik di kampung nelayan!”
“…”
“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“…”
“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”


1999
“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”
“Anak yang mana lagi?”
“Yang paling kecil!”
“Si Sri?”
“Ya.”
“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”
“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani, anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”
“Nantilah, Bu.”
“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu dengan tanah?”
“Ibu!”
“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa. Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”
“Bukan itu masalahnya, Bu.”
“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek. Tidak sempat bergaul. Kenalan!”
“Ya, ya…”
“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-kumpul sama keluarga besar kita. Ibu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”
“Bu!”
“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri. Biar Ibu yang cari.”
“Kalau nggak cocok bagaimana?”
“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.
“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”
“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”
“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”
“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? Ibu tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih? “


2002
“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”
“Aduh, ramainya!”
“Bukan ramai, senang! Meriah.”
“…”
“Ibu juga kepingin punya cucu.”
“…”
“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”
“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”
“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang. Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang repot.”
“Nantilah…”
“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu! Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian. Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”
“…”


2006
“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”
“…”
“Tahun depan?”
“…”
“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”
“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”
“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”
“Ya.”
“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami, belum?”
“Sudah.”
“Dia setuju?”
“Tak perlu ditanyakan, Bu.”
“Kamu itu memang keterlaluan!”
“Dia, Bu. Bukan aku.”
“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”
“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”
“Tidak pulang? Tugas luar?”
“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”
“Aduh, Gusti!”
“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “
“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana sini. Itu biasa. Biasa sekali!”
“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”
“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini. …”
“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”
“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-adikmu.”
“Tapi aku bukan Ibu.”
“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”
“Aku tidak bisa, Bu. ”
“Kuat sampai tua. Sampai mati.”
“Bu...”
“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.”
“…”
“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan ? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”
“…”


reda gaudiamo
pustaka jaya, 2006